PHRI Prediksi Bisnis Hotel Berjalan Signifikan Juli 2020

Category : News

Jakarta – Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia atau PHRI memperkirakan bisnis penginapan akan berjalan signifikan pada Juli 2020. Seperti diketahui, sektor pariwisata termasuk penginapan benar-benar terpukul di masa pandemi Covid-19.

Pengusaha hotel, losmen, vila, dan sejenisnya kini berusaha bertahan dengan berbagai cara. Memasuki masa new normal pada sepekan terakhir pun, belum semua pengusaha hotel membuka kembali layanan mereka.

“Sekarang hotel belum semua buka karena permintaannya kecil sekali. Sebagian besar menunggu sampai awal Juli 2020,” kata Ketua Umum PHRI Hariyadi Sukamdani dalam konferensi pers daring yang diadakan tiket.com, Rabu, 17 Juni 2020. Masih rendahnya permintaan akan jasa perhotelan, menurut dia, karena masyarakat masih enggan bepergian dan masih ada kekhawatiran lantaran pandemi Covid-19 belum benar-benar reda.

Kondisi di bisnis perhotelan atau penginapan, Hariyadi menjelaskan, berbeda dengan usaha restoran. “Kalau bisnis restoran sudah buka, terutama sebagian yang merasa tamunya tidak sedikit,” katanya.

PHRI telah membagikan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran Covid-19 pada 5 Juni 2020. Pedoman itu sudah diberikan ke seluruh pengelola hotel dan restoran anggota PHRI. “Dari usaha jasa boga juga ada yang meminta izin menggunakan protokol kami untuk katering,” katanya.

Pedoman pencegahan Covid-19 itu, kata dia, mengacu peraturan Menteri Kesehatan dan organisasi kesehatan dunia atau WHO. Hariyadi Sukamdani menjelaskan, hal utama yang paling penting adalah menjaga jarak fisik antar-individu. Sebab itu, pengelola bisnis hotel dan restoran mesti menghitung ulang kapasitas mereka dan membatasinya.

Ihwal pengurangan kapasitas tamu di hotel atau restoran selama masa new normal ini, Hariyadi menjelaskan, angkanya tidak harus separuh dari daya tampung total. “Bisa dikurangi 40 persen atau 30 persen, tergantung besar restoran dan gedung pertemuan,” ujarnya.

Hariyadi menambahkan, jangan lupa ketersediaan keran untuk mencuci tangan lengkap dengan sabun atau cairan pembersih tangan (hand sanitizer). “Orang yang sedang tidak makan harus selalu menggunakan masker,” katanya.

Pengelola hotel dan restoran juga harus rutin melakukan disinfeksi dan menjaga betul sanitasi di lingkungannya. “Industri ini kami membutuhkan keyakinan dari pelanggan,” ujarnya.

Sumber : https://travel.tempo.co/


Pariwisata RI Diramal Bangkit Lagi Awal 2021

Category : News

Jakarta – Pandemi virus Corona (COVID-19) merupakan bencana ‘mematikan’ bagi pariwisata Indonesia saat ini. Berkurangnya pergerakan manusia menyebabkan berbagai bisnis di industri tersebut mulai dari kawasan wisata, hotel, biro perjalanan, maskapai kehilangan sumber pendapatannya.

Department Head Industry & Regional Research PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Dendi Ramdani mengatakan, selain disebabkan kebijakan social distancing, saat ini masyarakat cenderung hanya mengonsumsi kebutuhan pokok. Pola konsumsi ini lebih diutamakan ke makanan dan minuman, suplemen, dan sebagainya. Oleh sebab itu, masyarakat menahan pengeluaran untuk berwisata.

“Kalau dilihat sektoral konsumsi berubah di bottom piramid itu ke makanan minuman, suplemen, restoran juga lebih ke delivery. Nah kelas menengah juga lebih memilih makanan olahan di rumah,” kata Dendi dalam diskusi online Mandiri Economic Outlook 2020, Rabu (17/6/2020).

Dendi memprediksi, industri pariwisata ini berpotensi bangkit kembali paling cepat di akhir tahun 2020, atau awal 2021.

“Pariwisata ini masih menunggu, mungkin 6 di akhir tahun atau awal tahun depan. Kalau melihat SARS kan hanya 3 bulan di tahun 2003. Nah sekarang kalau recovery tourism ini mungkin di akhir tahun atau awal tahun depan, ini bisa jadi lebih lama lagi,” jelas Dendi.

Begitu juga dengan bangkitnya bisnis restoran di Indonesia. Menurutnya, masyarakat masih menunggu keberhasilan social distancing hingga nanti kembali mengunjungi restoran lagi.

“Restoran dine-in juga perlu waktu karena orang perlu confidence melihat apakah social distancing berhasil,” urainya.

Menurut Dendi, dengan vaksin yang belum juga ditemukan maka kunci utama pemulihan sektor-sektor tersebut ialah ketertiban penerapan protokol kesehatan.

“Artinya kita kan bergantung para proses alamiah. Karena itu social distance sangat penting. Sehingga bisa smooth proses transisi atau recovery dari sektoral ini,” urainya.

Selain dari ketertiban masing-masing individu, menurut Dendi pemerintah juga perlu memberikan sanksi bagi masyarakat atau lembaga/badan yang melanggar protokol kesehatan.

“Pemerintah harus memfasilitasi dan enforcement juga. Kalau selama ini kan imbauan. Kalau ada enforcement atau punishment ini mungkin bisa lebih berjalan. Misalnya kalau nggak pakai masker bisa didenda,” pungkasnya.

Sumber : https://finance.detik.com/


Hotel di Solo Diizinkan Buka Layanan MICE

Category : News

Solo: Pemerintah Kota Surakarta, Jawa Tengah, memperbolehkan hotel membuka layanan MICE, yaitu pertemuan, intensif, konvensi, dan pameran memasuki normal baru. Terpenting menerapkan protokol kesehatan covid-19.

“Pernikahan, rapat boleh, yang penting 50 persen dari kapasitas,” kata Wali Kota Surakarta, FX Hadi Rudyatmo di Solo, Jawa Tengah, Rabu, 17 Juni 2020.

Dia mengatakan, hotel boleh melakukan aktivitas MICE mulai hari ini, Rabu, 17 Juni 2020. Namun, kata dia, tetap harus mengajukan pemberitahuan kepada Wali Kota Surakarta.
“Ini normal baru, kegiatan kita berubah. Meski demikian, untuk yang kaitannya dengan ekonomi boleh. Yang penting kami berusaha semaksimal mungkin,” terangnya.

Sementara itu, Dinas Pariwisata dan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Surakarta, membentuk tim monitoring untuk mengecek kondisi di lapangan, terkait kesiapan industri hotel dan restoran. Hal itu sesuai dengan Peraturan Wali Kota (Perwali) Nomor 10 Tahun 2020 tentang Juknis Penanganan Covid-19 di Kota Solo.

“Kalau memang sudah siap buka kembali (MICE), manajemen hotel bisa mengirimkan surat pemberitahuan, kami akan menerjunkan tim monitoring untuk mengecek kesiapannya seperti apa, khususnya untuk pemenuhan protokol kesehatan,” kata Kepala Dinas Pariwisata Kota Surakarta, Hasta Gunawan.

Pihaknya akan mengevaluasi setiap pekan. Selanjutnya, tidak menutup kemungkinan akan ada perubahan menyesuaikan kondisi dan hasil monitoring.

“Misalnya minggu ini belum boleh buka untuk MICE, bisa dilakukan minggu depan, termasuk kalau sampai ada satu orang yang positif (terpapar covid-19) maka hotel otomatis harus tutup selama 14 hari,” terangnya.

Sumber : https://www.medcom.id/


Potensi Merugi Rp 7 T, Industri MICE Diusulkan Beralih ke Online

Category : News

Jakarta – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menyebutkan potensi kerugian sektor MICE (Meetings, Incentives, Conventions and Exhibitions) akibat pandemi Covid-19 berkisar Rp 2,69 triliun – Rp 6,94 triliun akibat wabah Covid-19. Agar bisa bertahan, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama sempat mengusulkan agar MICE dilakukan secara secara online

Pasalnya, sekitar 96,43 persen acara di 17 provinsi harus ditunda, dan 84,20 persen lainnya dibatalkan. Selain itu, keberadaan lebih dari 90.000 pekerja industri kreatif yang ikut terimbas.

Data itu dikutip dari Indonesia Event Industry Council (Ivendo). Dengan begitu, pelaku usaha di industri MICE harus memikirkan cara untuk bisa tetap bertahan.

“MICE online tetap ada keuntungan tetapi online ini tidak bisa terus menerus karena pemain MICE kita banyak yang offline. Kami optimistis online tetap harus ada namun jangan menggantikan offline,” tutur Direktur MICE Kemenparekraf Iyung Maruroh dalam keterangan tertulis, Selasa, 2 Juni 2020.

Semua jenis aktivitas MICE terdampak pandemi secara merata. Pelaku industri bergerak cepat demi menahan imbas lebih buruk, serta menggencarkan anjuran penundaan dibandingkan dengan pembatalan. Berdasarkan data International Congress and Convention Association (ICCA) World Member Update per 27 Februari 2020 tercatat sedikitnya 12 acara ditunda di Indonesia, serta dua dibatalkan.  

Iyung mengatakan perlunya strategi pemulihan sektor MICE pascamerugi akibat pandemi Covid-19. Selain menyusun protokol pelaksanaan kegiatan MICE selepas pandemi dan menyusun strategi nasional pengembangan MICE, perlu dilakukan site inspection guna melihat kesiapan destinasi. 

Yang tak kalah utama ialah upaya untuk menggeliatkan kembali pasar domestik agar kembali mulai melaksanakan kegiatan MICE di destinasi yang sudah siap. Hal ini bertujuan agar perputaran ekonomi berangsur pulih. 

“Termasuk di dalamnya kita dorong meeting-meeting pemerintah dan korporasi agar lebih banyak di dalam negeri. Kami juga roadshow untuk meyakinkan asosiasi, industri dan penyelenggara kegiatan MICE mengenai kesiapan Indonesia menjadi destinasi MICE yang aman dan nyaman,” ujar Iyung. 

Keberadaan MICE memiliki beberapa nilai tambah terhadap perekonomian. Mengacu data Global Business Travel Association (GBTA) 2014, posisi MICE sangat kompetitif karena minimal 50 persen dari transaksi wisata dunia sebesar US$ 1,18 triliun adalah perjalanan bisnis. Angka belanja positif juga dimiliki wisatawan berbasis MICE.

Berdasarkan International Congress & Convention Association (ICCA) pada 2018, wisatawan MICE memiliki kemampuan belanja US$ 2.000 per orang per hari. Angka tersebut merupakan 7 kali lipat dari kemampuan belanja wisatawan biasa. Selain itu, wisatawan MICE ini memiliki rata-rata menginap lima malam.

 

Sumber : https://bisnis.tempo.co/


BI Dorong Kegiatan MICE Diperbanyak Di Awal 2020

Category : News

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Dody Budi Waluyo mengatakan pemerintah juga didorong untuk segera menggelar kegiatan meeting, incentives, conferencing, exhibition (MICE) guna meredam dampak corona.

“Ini bagian dari kesadaran pemerintah untuk menanggulangi masalah jangka pendek dari COVID-19. Ada insentif fiskal terkait dengan bantuan langsung. Bagaimana masyarakat dijaga kepercayaannya, agar tetap mau belanja untuk mendukung ekonomi,” kata Dody dalam acara Pengukuhan Kepala Perwakilan Wilayah Bank Indonesia (KPw BI) Kepulauan Riau (Kepri) di aula Gedung Bank Indonesia Kepri, Batam Centre, Batam, Jumat (28/2/2020).

Jika sebelumnya, MICE yang sebelumnya banyak dilakukan di Jakarta, kali ini diharapkan bisa dijalankan di daerah-daerah, utamanya daerah yang telah ditetapkan sebagai 10 destinasi pariwisata unggulan di Indonesia. Kegiatan tersebut diharapkan dapat segera menjadi penawar atas kondisi pariwisata yang berdampak cukup signifikan akibat COVID-19.

Dalam waktu dekat, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga akan ambil bagian melalui kebijakan mempermudah sektor-sektor usaha yang terkena dampak COVID-19 ini.

BI sendiri, juga telah mengambil langkah-langkah untuk terus menjaga stabilitas ekonomi Indonesia. Menurunkan suku bunga di angka 4,75 persen. Dalam tujuh bulan terakhir, suku bunga telah turun sebesar 1,25 persen.

Dengan kebijakan jangka pendek tersebut, diharapkan dapat menjaga gerak perekonomian khususnya melalui sektor pariwisata tetap optimal. Daya pikat Batam dan Bintan sebagai daerah penerima insentif pariwisata ini bisa terus ditingkatkan melalui sejumlah agenda. Utamanya kampanye perihal kondusivitas Batam sebagai daerah wisata, walaupun Singapura sebagai pintu masuk tengah bermasalah dengan COVID-19 ini.

“Semoga kegiatan-kegiatan yang ada bisa tetap menggerakkan pariwisata di Batam, sehingga UMKM yang terlibat di dalamnya juga tetap bisa berjalan,” kata Dody lagi.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam, Ardiwinata menuturkan pihaknya telah berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait di daerah untuk bisa mengoptimalkan insentif yang akan diberikan. Namun demikian, secara teknis bagaimana nantinya insentif itu akan dipakai, Ardiwinata masih menunggu arahan dari pusat.

“Kami tetap menyesuaikan dengan arahan dari pusat, yang jelas akan dipakai untuk mengoptimalkan potensi pariwisata yang ada di sini,” kata Ardiwinata ketika dihubungi pada Jumat (28/2/2020) sore.

Ardiwinata melanjutkan, pihaknya sejauh ini terus mendorong asosiasi pariwisata yang ada di Batam untuk terus bergerak, menjaring sebanyak-banyaknya wisatawan, baik itu wisatawan lokal dan manca negara (Wisman).

Bersama Dinas Pariwisata Provinsi Kepri, Ardiwinata tengah menyusun sebuah kampanye untuk mengabarkan kepada masyarakat luas bahwa Kota Batam dan daerah lain di Kepri aman dan kondusif. Kampanye itu diharapkan akan memberikan dampak signifikan.

“Sekarang kita lagi cari formulanya, yang paling efektif dan kalau bisa langsung memberikan dampak,” kata Ardiwinata lagi.

Sebelumnya, Asosiasi Pariwisata Bahari (Aspabri) Kepri telah membuat kampanye seperti yang direncanakan. Dimana pada 19 dan 20 Februari lalu, Aspabri Kepri mendatangkan agensi travel asal Malaysia, Singapura, dan beberapa daerah di Indonesia untuk datang langsung ke Batam.

Puluhan agensi travel tersebut diajak berkeliling menikmati pariwisata Batam dan Bintan.

“Tujuan kita untuk memberitahukan kalau Batam, Bintan, dan Kepri umumnya aman, orang-orang bebas berwisata di sini tanpa perlu takut. Kepri bebas dari Corona (COVID-19), diharapkan mereka akan membawa turis lebih banyak lagi ke Kepri,” kata Ketua Aspabri Kepri, Surya Wijaya. (K41)

 

Sumber : https://sumatra.bisnis.com/


  • -

Efek Meluasnya Virus Corona, Kegiatan MICE Fokus Di Bali

Category : News

Pasca meluasnya virus corona di dunia memunculkan ketakutan bagi wisatawan mancanegara (wisman) berlibur ke kawasan wisata dunia. Ketua Indonesia Congress and Convention Association (INCCA) Bali, IB. Surakusuma mengatakan, Pemerintah Indonesia bisa memfokuskan kegiatan MICE di Bali mengingat Bali sudah dikenal dunia internasional dan lebih siap menghadapi penyakit menular termasuk virus corona.

Upaya pelaku pariwisata Bali mendorong pemerintah pusat memfokuskan keguatan MICE di Bali merupakan kondisi yang wajar. Ini mengingat pariwisata Bali kehilangan ribuan wisatawan Tiongkok akibat penutupan bandara di Tiongkok.
Ia menjelaskan dengan menggeliatkan kegiatan MICE di Bali diharapkan bisa menggairah pasar leasure. Ketakutan akan virus corona menyebabkan tidak sedikit wisatawan leasure menunda liburannya  ke kawasan wisata dunia termasuk ke Bali.
Menurutnya, sangat tepat permintaan staholder Pariwisata Bali agar kegiatan MICE diprioritas di Bali. Ini untuk pemulihan pariwisata Bali pasca virus corona di Tiongkok.

Adanya upaya stakeholder pariwisata Bali meminta kegiatan MICE pemerintah di selengarakan di Bali tentu akan menjadi pertimbangan pemerintah pusat melalui kementerian pariwisata. ” Ini permintaan yang sah sah saja untuk menggairahkan pariwisata Bali,” ucap Konsul Kehormatan Polandia untuk Bali ini.

Hanya saja, pelaku pariwisata Bali mesti inget Indonesia mengembangkan 10 Bali Baru. Pelaku pariwisata di 10 kawasan Indonesia tersebut tentu berharap menghandel MICE di daerahnya.

Pemerintah pusat memiliki tanggungjawab untuk membesarkan 10 Bali Baru. Bali tentu harus bersaing dengan 10 Bali Baru untuk menghandel MICE yang diselenggarakan pemerintah.

Pemerintah pusat tentu membagi potensi atau peluang MICE untuk Bali dan kawasan 10 Bali Baru. IB. Surakusuma menambahkan MICE untuk pasar domestik memang lebih berpeluang dilaksanakan di kawasan 10 bali baru. Sementara MICE berskala internasional tentu perintah pusat akan memilih Bali. “Ini berdasarkan pertimbangan Bali memiliki fasilitas yang lengkap untuk pelaksanaan kegiatan MICE,” tegasnya. *kup

 

Sumber : http://bisnisbali.com/


  • -

Bali Bisa Jadi ‘Kiblat’ MICE

Category : News

Kalangan pelaku pariwisata Bali optimis Bali bisa menjadi ‘kiblat’ gelaran meeting incentive convention and exhibition (MICE) dunia. Alasannya sederhana saja. Bali sudah kondang sebagai tujuan wisata dunia dengan pariwisata budayanya. Tentu saja  infrastruktur, fasilitas  baik hall maupun properti yang mampu menampung ribuan peserta. Bali juga sejauh ini merupakan tempat yang aman dan nyaman.

Wakil Ketua PHRI Bali I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya menyatakan optimisme tersebut. Apalagi setelah lembaga yang menangani MICE yakni Bali CEB sudah terbentuk. “Bali CEB yang sudah terbentuk kan memang tujuannya untuk mengikuti bidding (mengajukan penawaran, Red) mendapatkan MICE,” ujar Rai Suryawijaya, sapaan tokoh pariwisata asal Desa Dalung, Kecamatan Kuta Utara Badung, Senin (24/2).

Dengan potensi infrastruktur, SDM, keamanan dan kenyamanan itulah  itulah kata  Rai Suryawijaya, Bali bisa menjadi pusat MICE dunia. Apalagi kata Rai Suryawijaya, Bali sudah terbukti mampu menggelar beberapa perhelatan berskala internasional. Yang terakhir adalah IMF-World Bank Annual Meeting pada Oktober 2018 lalu, dengan peserta lebih dari 20 ribu orang peserta delegasi. “Juga beberapa perhelatan internasional lainnya,” ujar Rai Suryawijaya.

Sebelumnya CEO Bali CEB Levie Lantu mengatakan, untuk tahun 2020, Bali siap membidik 6.000 pelaku MICE. “Kita sudah langsung bergerak,” ujar Levie Lantu, menyusul pengukuhan Bali CEB beberapa waktu di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali (KPwBI) Bali. Bali CEB merupakan lembaga khusus yang bertujuan melakukan biding, untuk bisa membawa MICE sebanyak mungkin ke Bali.

Industri MICE di Indonesia sendiri masih mengalami kendala untuk lebih maju ketimbang negara lain di ASEAN.  Data International Congress and Convention Association (ICCA) menunjukkan pada 2018 Indonesia menduduki posisi ke-36 untuk Ranking Dunia Destinasi Pertemuan Asosiasi Internasional dengan total 122 pertemuan tingkat regional dan dunia. Sementara itu, di kawasan Asia Pasifik, Indonesia berada di urutan ke-11. Indonesia masih berada di bawah negara-negara ASEAN lain, seperti Thailand, Singapura dan Malaysia. “Kenapa rendah pertama sebetulnya kalau lihat Indonesia ini mampu, yang jadi permasalahan Indonesia saat ini kurang aktif dalam partisipasi event-event asosiasi. Jadi kurang network (relasi),” kata Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Events) Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, Rizki Handayani, dalam Press Conference ICCA Indonesia Forum 2020 di Jakarta Convention Center, Rabu, (19/2).

Faktor bidding yang belum kuat juga menjadi alasan mengapa Indonesia saat ini mesih kalah dengan negara-negara tetangga. Rizki menyatakan untuk lima tahun ke depan pemerintah akan fokus mendukung MICE. Hal ini menjadi sebuah dorongan dari pemerintah, agar Indonesia lebih rajin mengikuti bidding di tingkat internasional. “Pemerintah siap mem-backup (dukung) 100 persen. Pemerintah juga harus komitmen untuk konsisten menggarap MICE,” jelas Rizki. *k17

 

Sumber : https://www.nusabali.com/


  • -

Kendala Indonesia Untuk Bisa Unjuk Gigi di Bidang MICE

Category : News

Industri MICE di Indonesia masih mengalami kendala untuk lebih maju ketimbang negara lain di ASEAN.  Data International Congress and Convention Association (ICCA) menunjukkan pada 2018 Indonesia menduduki posisi ke-36 untuk Ranking Dunia Destinasi Pertemuan Asosiasi Internasional dengan total 122 pertemuan tingkat regional dan dunia.

Sementara itu, di kawasan Asia Pasifik, Indonesia berada di urutan ke-11. Indonesia masih berada di bawah negara- negara ASEAN lain, seperti Thailand, Singapura dan Malaysia. “Kenapa rendah pertama sebetulnya kalau lihat Indonesia ini mampu, yang jadi permasalahan Indonesia saat ini kurang aktif dalam partisipasi event-event asosiasi. Jadi kurang network (relasi),” kata Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Events) Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, Rizki Handayani, dalam Press Conference ICCA Indonesia Forum 2020 di Jakarta Convention Center, Rabu, (19/02/2020)

Faktor bidding (mengajukan penawaran) yang belum kuat juga menjadi alasan mengapa Indonesia saat ini mesih kalah dengan negara-negara tetangga. Rizki menyatakan untuk lima tahun ke depan pemerintah akan fokus mendukung MICE. Hal ini menjadi sebuah dorongan dari pemerintah, agar Indonesia lebih rajin mengikuti bidding di tingkat internasional.

“Pemerintah siap mem-backup (dukung) 100 persen. Pemerintah juga harus komitmen untuk konsisten menggarap MICE,” jelas Rizki Handayani. Ketua ICCA Indonesia Raty Ning, menyampaikan pendapat mengenai apa saja upaya yang bisa dilakukan oleh pemerintah dalam menunjang industri MICE.

“Bantuan pemerintah itu punya dua, satu di regulasi, satu di fasilitas, kaitannya dengan bujet. Fasilitasi di promosi, fasilitasi untuk meningkatkan kemampuan bidding,” jelasnya. Ia juga berharap industri pariwisata dan asosiasi untuk banyak yang bergabung ke ICCA Indonesia untuk menerima traning (pelatihan). Raty juga menyatakan jika dana pemerintah belum banyak membantu dalam proses bidding. Ia berharap agar pemerintah lebih menyadari pentingnya hal tersebut dan meningkatkan MICE di Indonesia.

Sumber : https://travel.kompas.com/


  • -

Asosiasi Pengusaha MICE Minta Pemerintah Jatim Agresif Gelar Event

Category : News

Asosiasi Perusahaan Penyelenggara Pameran Seluruh Indonesia (Asperapi) Jawa Timur (Jatim) giat mendorong perkembangan meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE). Sebab, industri tersebut punya multiplier effect yang positif bagi perekonomian.

Ketua Asperapi Jatim Yusuf Karim Ungsi menyebut MICE sebagai perangsang aktivitas ekonomi. MICE membuat banyak orang datang ke Jatim. Khususnya Surabaya. Artinya, bisnis yang berkaitan dengan MICE menggeliat. Terutama perhotelan.

Massa MICE yang tidak dari Surabaya sangat mungkin menginap. Maka, saat event berlangsung, okupansi hotel meningkat. Bisnis lain yang juga lantas bergairah adalah jual beli atau perdagangan.

“Yang perlu digarisbawahi, industri MICE tidak mungkin jalan sendiri. Butuh kerja sama lintas stakeholders,” tutur Yusuf, Rabu (22/1).

Dia menambahkan, sebenarnya pasar MICE di Jatim, khususnya Surabaya, potensial. Apalagi, jumlah venue pameran dan hotel di Kota Pahlawan sangat banyak. Belum lagi dukungan fasilitas MICE yang lengkap dan transportasi yang memadai.

“Kami harap pemerintah Jatim lebih agresif lagi tahun ini,” ungkapnya.

Event budaya, menurut Yusuf, selalu mendatangkan banyak orang. Selain itu, atraksi atau acara-acara yang mengangkat keunikan Surabaya akan sangat diminati. Dia lantas menyebut Bali sebagai contoh.

“Kalau mengadakan pertemuan atau pameran di sana pasti ramai. Sebab, pengunjung juga sekalian bisa menikmati pariwisata. Surabaya harus bisa begitu juga. Harus punya ciri khas yang bisa ditonjolkan,” paparnya.

Demi mengembangkan MICE, tahun ini Asperapi getol menyosialisasikan sertifikasi SDM. Bagi Yusuf, sertifikasi untuk penyelenggara pameran atau event organizer (EO) sangat penting.

“Surabaya sekarang adalah satu di antara tujuh destinasi MICE di Indonesia. SDM juga harus diperkuat agar punya standar yang tidak kalah dengan daerah lain,” ungkapnya.

Yusuf yakin tahun ini lebih baik ketimbang 2019. Sebab, kondisi politik sudah relatif stabil. “Kami prediksikan 2020 banyak yang mengusung tema pameran business-to-business ketimbang business to consumer,” ungkapnya.

Sebenarnya, agar MICE tetap menjadi daya tarik, para pelaku usaha membutuhkan semacam insentif dari pemerintah. Sebab, harga sewa gedung dan biaya penyelenggaraan event masih terbilang mahal.

“Perlu adanya bantuan dari pemerintah agar berkembang. Apalagi, industri ini sangat mampu mendatangkan wisatawan berkualitas dengan spending money yang bagus,” paparnya.

Indikator Geliat Pameran Jatim

Stabilitas politik.

Jumlah venue pameran dan hotel memadai.

Surabaya menjadi destinasi MICE Indonesia.

 

 

 

Sumber : https://www.jawapos.com/


  • -

Setelah Pariwisata, Labuan Bajo Dilirik Jadi Destinasi MICE

Category : News

Jakarta – Labuan Bajo jadi destinasi MICE? Bisa saja. Kota itu memiliki modal kuat sebagai destinasi wisata. Ke depan, bisa dibangun fasilitas venueagar bisa menjadi destinasi MICE.

Fasilitas wisata Meeting Incentive Conference Exhibition (MICE) di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT), kini terus bertambah seiring semakin banyaknya proyek infrastruktur yang dibangun.
Pada Senin, 20 Januari lalu, Presiden Jokowi meresmikan salah satu amenitas hotel, yang dijadikan tempat penyelenggaraan event MICE di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur.
Jokowi menegaskan sangat senang, Labuan Bajo kini  memiliki lokasi untuk menyelenggarakan event, untuk menunjang industri pariwisata di sana.
“Saya senang sekali melihat betapa bagusnya Hotel Inaya Bay ini. Saya tidak ingin berpanjang kata, semoga hotel ini bisa memberikan dukungan penuh bagi pariwisata di Labuan Bajo,” kata Jokowi.
Sebelumnya, Kepala Negara juga mengatakan saat rapat bersama para Menteri Kabinet Indonesia Maju untuk membahas pengembangan destinasi wisata Labuan Bajo, yang bersegmen superpremium terdapat beberapa hotel berbintang di Labuan Bajo dengan berbagai fasilitas pertemuan.
Inaya Bay menjadi venue MICE pertama dan terbesar di Labuan Bajo. Dok. Kemenparekraf
“Namun hal itu dirasa masih belum cukup, tetapi kami juga melihat masih sangat diperlukan lagi tambahan hotel untuk Labuan Bajo,” katanya.
Menurut Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama Kusubandio dalam laporannya kepada Presiden Jokowi mengatakan, bahwa amenitas tersebut merupakan join venture antara PT Indonesia Ferry Property dengan PT Pembangunan Perumahan, untuk membangun infrastruktur Kawasan Marina Labuan Bajo.
“Saat ini kami berada di Inaya Bay Komodo, hotel yang memiliki 147 kamar sekelas bintang empat ini dilengkapi multifunction hall dengan kapasitas 1.000 orang. Ini merupakan multifunction hall pertama di Labuan Bajo yang bisa menampung orang dalam jumlah besar dan bisa menjadi venue dalam berbagai event MICE,” kata Wishnutama.
Menparekraf juga menggarisbawahi, pembangunan sarana pendukung di Labuan Bajo yang sedang gencar dilakukan, harus seirama dengan pembangunan SDM di sana. Masyarakat setempat tidak boleh hanya jadi penonton, tetapi harus menjadi pelaku dan menerima dampak positif pembangunan pariwisata di daerahnya.
Sumber : https://travel.tempo.co/