• -

Fasilitas Wisata MICE Di Labuan Bajo Terus Bertambah

Category : News

Labuan Bajo menjadi salah satu destinasi super premium yang akan menjadi Bali Baru. Tidak hanya menyediakan keunikan alam yang memesona. Labuan Bajo juga dipersiapkan sebagai wisata Meeting Incentive Conference Exhibition (MICE).

Fasilitas wisata Meeting Incentive Conference Exhibition (MICE) di destinasi wisata super premium Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT) terus bertambah seiring semakin banyaknya proyek infrastruktur yang dibangun.

Bahkan, dalam kunjungannya beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo meresmikan salah satu amenitas hotel yang dijadikan tempat menyelenggarakan event Pertemuan, Insentif, Konvensi, dan Pameran (MICE) di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur.

Presiden saat meresmikan Hotel Inaya Bay dan Kawasan Marina, Labuan Bajo Senin (20/1/2020) mengatakan, dirinya sangat senang di Labuan Bajo saat ini memiliki lokasi untuk menyelenggarakan event untuk menunjang industri pariwisata di sana.

“Saya senang sekali melihat betapa bagusnya Hotel Inaya Bay ini. Saya tidak ingin berpanjang kata, semoga hotel ini bisa memberikan dukungan penuh bagi pariwisata di Labuan Bajo,” kata Jokowi.

Sebelumnya, Kepala Negara juga mengatakan saat rapat bersama para Menteri Kabinet Indonesia Maju untuk membahas pengembangan destinasi wisata Labuan Bajo, pengembangan destinasi wisata Labuan Bajo yang bersegmen super premium terdapat beberapa hotel berbintang di Labuan Bajo dengan berbagai fasilitas yang ada.

“Namun hal itu dirasa masih belum cukup, tetapi kita juga melihat masih sangat diperlukan lagi tambahan hotel untuk Labuan Bajo,” katanya.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio dalam laporannya kepada Presiden Joko Widodo mengatakan, amenitas tersebut merupakan join venture antara PT Indonesia Ferry Property dengan PT Pembangunan Perumahan untuk membangun infrastruktur Kawasan Marina Labuan Bajo.

“Saat ini kita berada di Inaya Bay Komodo, hotel yang memiliki 147 kamar sekelas bintang 4 ini dilengkapi multifunction hall dengan kapasitas 1.000 orang. Ini merupakan multifunction hall pertama di Labuan Bajo yang bisa menampung orang dalam jumlah besar dan bisa menjadi venue dalam berbagai event MICE,” kata Wishnutama.

Menparekraf juga menggarisbawahi, pembangunan sarana pendukung di Labuan Bajo yang sedang gencar dilakukan, harus seirama dengan pembangunan SDM di sana.

Masyarakat setempat tidak boleh hanya jadi penonton, tetapi harus menjadi pelaku dan menerima dampak positif pembangunan pariwisata di daerahnya.

“SDM harus terus ditingkatkan keahliannya, serta kompetensinya. Dengan begitu, SDM tersebut bisa dilibatkan dalam pembangunan kawasan Labuan Bajo. Serta memberikan pelatihan bagi masyarakat setempat untuk menggarap produk-produk lokal, baik dari sisi pengemasan, desain, harga, dan lain-lain,” katanya.

 

Sumber : https://www.inews.id/


  • -

Potensi Mice Jateng Tinggi, LSP Smicecomm Dorong Sertifikasi

Category : News

Potensi meeting, incentive, conference and ekhibition (Mice) di Jawa Tengah sangat tinggi. Namun demikian, nampaknya hal tersebut harus diimbangi dengan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkompeten. Selain berkompeten, SDM yang berkutat dalam dunia Mice harus pula memiliki sertifikasi Mice.

Percuma jika seorang pelaku Mice mampu secara kemampuan namun tak memiliki sertifikat Mice. “Karena dengan sertifikasi Mice, seorang bisa meningkatkan mobilitas dan daya saingnya. Tentunya juga sebagai bentuk pengakuan atas kompetensinya,” ujar Ketua Smicecomm Solichoel Soekaemi, saat expose dan pemantapan pembentukan struktur organisasi LSP Smicecomm, Sabtu (18/1/2020).  menambahkan, jika kualifikasi SDM yang menggeluti Mice tidak melalui tingkatan keprofesian.

Namun, Sertifikasi SDM dibagi berdasarkan skema atau keahlian. Pertama tenaga registrasi, pendamping acara, pengelola acara, kualifikasi khusus pameran, marketing komunikasi terkait even, kualifikasi building officer, stan builder. Ia menerangkan, SDM berserrifikasi Mice di Jawa Tengah masih belum banyak. Dimana hal tersebut membuat kegiatan Mice di Jawa Tengah selalu dilaksanakan oleh orang luar Jawa Tengah.

Sehingga masyarakat di Jateng belum bisa maksimal mendapatkan manfaat kegiatan Mice. “Dari dua ratusan yang bersertifikat. Kira-kira masih sekitar 20% yang masih berlaku serrifikat Micenya.

Yang lainnya kemungkinan sudah kadaluarsa,” ungkapnya. Melihat kondisi tersebut, Smicecomm yang bermula hanya sebagai komunitas Mice berusaha membantu pelaku Mice untuk bersertifikasi dengan membentuk Lembaga Sertifikasi Profesi (LPS) Smicecomm. “Visi kami ingin menjadika  SSM Mice di Indonesia memiliki nilai kompetitif dan pengakuan kompetisi di nasional maupun internsional. Dan misi kami, mengembangankan standart kompetensi SDM bidang Mice.

Meningkatkan nilai kompetitif SDM Miice di Indonesia melalui sertifikasi,” katanya. “Semoga dengan berdirinya LPS Smicecomm ini bisa membantu meningkatkan kualiatas SDM di bidang Mice,” tambahnya. Selain itu, upaya lainnya, dia juga mendorong adanya penyelenggaraan diklat asesor seperti asesor jasa perjalanan wisata, jasa pramuwisata, jasa pertemuan perjalanan, jasa penyedia akomodasi, dan lainnya.

 

Sumber : https://www.ayosemarang.com/


  • -

Bali Siap Menjadi Destinasi Pariwisata MICE

Category : News

INDUSTRY.co.id – Denpasar- Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali I Putu Astawa mengusulkan sudah seharusnya daerah setempat dapat mengubah target promosi wisata menuju pariwisata MICE (pertemuan, insentif, konvensi dan pameran).

“Selama ini pariwisata Bali terlalu nyaman dengan wisatawan ‘leisure’ dalam bentuk ‘mass tourism’. Ke depannya kita harus ubah, kita harus menuju pariwisata yang berkualitas. Salah satunya adalah MICE, karena hal ini sudah terbukti bisa membangkitkan perekonomian Bali saat adanya isu Gunung Agung meletus,” kata Astawa dalam acara dialog interaktif bertajuk “Ekonomi Bali Tahun 2020 di Tengah Dominasi Pariwisata”, di Denpasar, Selasa.(14/1/2020)

Selain itu, menurut dia, mengubah orientasi pasar juga perlu dilakukan karena banyak negara yang dulu merupakan pasar potensial, sekarang sudah tidak lagi. Bahkan, malah justru hanya bisa mendatangkan wisatawan kelas bawah.

Sedangkan Vietnam contohnya, justru memiliki pertumbuhan ekonomi yang cukup bagus, sehingga menurut dia, promosi ke negara Vietnam perlu digalakkan. Dengan demikian, wisatawan yang datang adalah wisatawan premium yang berkualitas.

Selain terus mempromosikan wisata MICE, Astawa menyebutkan sejumlah kegiatan festival pariwisata akan digelar selama 2020 seperti Kintamani Chinese Festival 8 Februari 2020, Bali and Beyond Travel Fair (BBTF) bulan Juni 2020 dan Mekepung Gubernur Cup pada Bulan Juli 2020.

“Dengan menciptakan berbagai ‘event’ di Bali, maka selain mampu sebagai media promosi, sekaligus akan bermanfaat bagi perekonomian masyarakat,” ucap mantan Kepala Bappeda Bali itu.

Sementara Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Bali Adi Nugroho mengatakan sumbangan pariwisata Bali terhadap ekonomi Bali mencapai 50,84 persen

Efek dari kegiatan internasional seperti konferensi IMF-World Bank telah membuat ekonomi Bali tumbuh dengan cepat.

Adi menambahkan, dalam 10 tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Bali memang didominasi dari sektor pariwisata, meskipun sektor lain juga sudah dikembangkan. Namun, pariwisata tetap paling atas.

Selain itu, tingginya harga tiket domestik sempat mengganggu kunjungan wisatawan, namun tidak berpengaruh besar.

Capaian tiap bulan hampir selalu memecah rekor dari bulan yang sama di tahun sebelumnya. Rata-rata kunjungan wisatawan mancanegara per bulan ke Bali mendekati 600 ribu orang. “Sampai saat ini kondisi sektor pariwisata dalam kondisi aman, dan tidak perlu terlalu khawatir,” ujarnya.

Tetapi Adi Nugroho menyarankan jangan terlalu tergantung dari sektor pariwisata dan harus tetap mengembangkan sektor lain, untuk jaga-jaga kalau sektor pariwisata kolaps.

 

Sumber : https://www.industry.co.id/


  • -

SIPCO Klaim, Bali Punya SDM Handal Tangani MICE

Category : News

balitribune.co.id | Denpasar – Berbagai fasilitas penunjang menjadi salah satu kebutuhan untuk memenuhi kegiatan Meeting, Incentive, Convention and Exhibition (MICE). Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pun berupaya untuk menggenjot pasar MICE internasional diselenggarakan di Tanah Air termasuk Bali. Terkait MICE, Bali telah berpengalaman menangani event-event berskala internasional baik itu Meeting dan Exhibition.

Selain kemudahan aksesibilitas penerbangan yang menghubungkan pulau ini dengan sejumlah negara, sumber daya manusia (SDM) berperan penting dalam hal suksesnya penyelenggaraan MICE di Bali. Jika dilihat dari sisi venue atau tempat kegiatan MICE berskala besar dengan peserta ribuan orang dan bertaraf internasional, di Bali pun telah memungkinkan. Mengingat sudah biasa menjadi venue event-event pertemuan besar kelas dunia.

Seperti disampaikan Ketua Society of Indonesia Professional Convention Organizer (SIPCO) Bali, Putu Juarez Robin Putra beberapa waktu lalu di Denpasar. “Penerbangan dan SDM penting untuk MICE. Kita di Bali sudah mempunyai SDM yang berpengalaman di bidang MICE. SDM yang ada di Bali sudah cukup untuk menghandle event-event internasional. Namun masih perlu ada komitmen pemerintah untuk memperhatikan MICE ini,” katanya.

Dia menyampaikan, tren yang terjadi sekarang ini adalah beberapa provinsi di Asia fokus ke pangsa pasar MICE contohnya Pattaya, Negara Thailand. “Mereka sudah berani memberikan insentif bagi penyelenggara MICE,” ucap Juarez.

Insentif ini disampiakan saat mulai menawarkan venue dan produk MICE (bidding) misalkan adanya sinergi dengan pemerintah dengan didukung free welcome dinner, diskon pesawat, suvenir. “Itu yang kita punya untuk bidding,” ujarnya.

Menurut dia, apabila MICE diselenggarakan oleh pemerintah seperti IMF, maka bidding yang dilakukan masuk ke kriteria government to government (antar pemerintah). Kemudian bidding perusahaan ke perusahaan dan organisasi ke organisasi.

“Tren cara bidding per organisasi berbeda-beda. Apabila mendatangkan lebih dari sekian orang, pada saat bidding sudah disampaikan akan mendapat insentif berupa a, b, c atau d. Jadi ada beberapa insentif yang diberikan kepada bidding oleh convention biro,” jelas Juarez.

Dijelaskannya, bidding bisa dilakukan sekarang untuk MICE yang diselenggarakan pada 5 tahun ke depan. Selain insentif, saat bidding juga dilakukan pengenalan tentang pulau yang akan menjadi venue MICE misalnya terkait luas pulau, jumlah penduduk, jumlah kamar hotel, transportasi, harga kamar hotel, kondisi tempat convention atau mampu menampung berapa peserta, imigrasi di bandara, cukai dan lainnya.

“Biasanya, ketika event akan kita menangkan, maka akan ada pertanyaan. Jika event-event ini berlangsung di Bali, pemerintah anda akan memberikan apa. Bahkan ada beberapa negara bisa langsung menjawab,” terangnya. Namun yang paling absolut disampaikan adalah terkait keamanan. Bali pun ditegaskan Juarez sudah siap untuk MICE dan leisure.

Sumber : https://balitribune.co.id/

  • -

Grup Hotel Sahid Menangkap Peluang MICE Di Kampus Yogyakarta

Category : News

TEMPO.COYogyakarta – Sebagai destinasi MICE utama selain Bali dan Jakarta, Yogyakarta sangat siap menerima tamu berbagai konferensi internasional dan meeting. Salah satu hotel yang membidik pasar MICE di Yogyakarta adalah Sahid Raya Hotel & Convention Yogyakarta.

Terletak di tengah-tengah kawasan kampus di Babarsari, Sleman, yang dikenal tak pernah tidur dari aktivitas, hotel bintang empat itu memiliki keunggulan space konvensinya. Berada di tengah kampus, membuatnya dekat dengan bisnis pertemuan. Pasalnya, dunia akademik kerap menggelar pertemuan internasional.

“Kami memiliki ballroom seluas 833 meter persegi yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan. Mulai wedding, konser, gathering, seminar
dan congress meeting,” ujar General Manager Sahid Raya Hotel & Convention Yogyakarta, Joko Paromo kepada TEMPO, Senin 13 Januari 2020.

Yang juga jelas jadi andalan konvensi di Hotel Sahid itu, spot itu bisa dipergunakan untuk pelayanan mencapai 1.000 round table sekaligus dan ruang theatre berkapasitas mencapai 3.000 orang.

Namun, Joko menuturkan luasnya area konvensi belum sepenuhnya bisa dipakai mengukur kenyamanan. Ada variabel krusial dalam menyediakan area konvensi agar menambah nyaman penggunanya, yakni variabel ceiling atau jarak dari lantai ke langit-langit konvensi.

Ballroom Sahid Hotel Yogyakarta. Tempo/Pribadi Wicaksono

“Andalan ruang konvensi di Sahid ini, ukuran ceiling-nya mencapai tinggi 12 meter, jadi membuat orang merasa sangat lega saat duduk di dalam walau sedang penuh orang,” ujar Joko. Ketinggian langit-langit itu, juga memungkinkan membuat tata panggung yang megah.

Joko tak menampik jika penyelanggara event yang membuat berbagai perhelatan memilih Sahid Raya Hotel & Convention Yogyakarta juga karena faktor klasik: area parkirnya luas serta berada di lokasi yang sangat mudah terjangkau.

“Fasilitas konvensi di sini pun juga dilengkapi standar tata suara yang sesuai, mini garden, termasuk LCD dan screen,” ujarnya.

Sahid Raya Hotel & Convention Yogyakarta memiliki posisi yang terbilang sangat strategis karena dikelilingi beragam wisata kuliner, kampus ternama, pusat perbelanjaan, dan sangat dekat menuju Bandara Adisutjipto.

Keunggulan Sahid Raya Yogyakarta juga tersambung langsung dengan J-Walk Mal, sehingga para tamu bisa melakukan aktivitas berbelanja, hiburan atau sekedar nongkrong di coffee shop.

 

 

Sumber : https://travel.tempo.co/


  • -

Dispar Bali Genjot Potensi Pariwisata MICE

Category : News

DENPASAR, NusaBali.com
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, I Putu Astawa menyampaikan pariwisata Bali ke depan bakal diubah agar menjadi lebih berkualitas. Pasalnya selama ini pariwisata Bali terlalu nyaman dengan wisatawan leasure dalam bentuk mass tourism. “Ke depannya kita harus ubah, kita harus menuju quality tourism. Salah satunya adalah MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition). Karena hal ini sudah terbukti bisa membangkitkan pereknomian Bali saat adanya isu Gunung Agung meletus,” ungkapnya dalam dialog interaktif ‘Ekonomi Bali tahun 2020 di Tengah Dominasi Pariwisata’, Selasa (7/1/2020).
Ia menambahkan orientasi pasar juga perlu diubah karena banyak negara-negara yang dulu merupakan pasar potensial, sekarang sudah tidak lagi. Justru mereka hanya bisa mendatangkan wisatawan kelas bawah. Sementara itu Astawa menilai Vietnam saat ini justru memiliki pertumbuhan ekinomi yang cukup bagus. Dengan demikian promosi ke negara Vietnam perlu digalakkan sehingga nantinya wisatawan yang datang adalah wisatawan premium yang berkualitas.
Tak hanya mempromosikan wisata MICE, tahun ini Dinas Pariwisata juga akan menyelenggarakan perhelatan pariwisata yang berskala internasional di Bali, seperti,: Kintamani Chinese Festival 8 Februari 2020, Bali and Beyond Travel Fair (BBTF) bulan Juni 2020 dan Mekepung Gubernur Cup pada Bulan Juli 2020. “Dengan menciptakan event di Bali maka selain mampu sebagai media promosi, sekakigus akan bermanfaat bagi perekonomian masyarakat,” ujarnya. Astawa mengungkapkan, hingga Desember 2019 jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali sudah mencapai 6,7 Juta.
Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Bali,  Adi Nugroho mengatakan jika sumbangan pariwisata terhadap perekonomian Bali mencapai 50,84 persen. Ia mengatakan beberapa perhelatan internasional yang diselenggarakan di Pulau Bali mampu memberikan efek terhadap pertumbuhan ekonomi Bali. “Sepuluh tahun terakhir pertumbuhan ekonomi didominasi dari sektor pariwisata, meskipun sektor lain juga sudah dikembangkan tapi pariwisata tetap paling atas,” jelasnya.
Selain itu, tingginya harga tiket domestik sempat mengganggu kunjungan wisatawan, akan terapi tidak berpengaruh besar. Capaian tiap bulan hampir selalu memecahkan rekor dari bulan yang sama di tahun sebelumnya.
Ia mengungkapkan rata-rata kunjungan wisman per bulan ke Bali mencapai 600 ribu orang. “Sampai saat ini kondisi sektor pariwisata dalam kondisi aman, dan tidak perlu terlalu kawatir. Tetapi jangan juga terlalu tergantung dari sektor pariwisata. Harus tetap mengembangkan sektor lain, untuk berjaga-jaga kalau sektor pariwisata kolaps,” pungkasnya.
Sumber : https://www.nusabali.com/

  • -

Menggairahkan MICE, Yogyakarta Butuh Venue Lebih Banyak?

Category : News

TEMPO.COJakarta – Pemerintah DI Yogyakarta tak menampik salah satu kunci Yogyakarta mampu mendatangkan wisatawan, tak semata karena memiliki kekayaan tradisi, budaya dan destinasinya.

Selain modal besar di bidang pariwisata itu, wisatawan berprofil tinggi bisa diundang ke Yogyakarta melalui sektor MICE atau meeting, incentive, convention, and exhibition atau pertemuan, insentif, konvensi, dan pameran.

“Sektor MICE Yogyakarta efektif untuk mendatangkan wisatawan, terutama untuk event meeting yang melibatkan grup,” ujar Kepala Dinas Pariwisata DIY Singgih Sapto Rahardjo Selasa 7 Januari 2020. Singgih menuturkan wisatawan yang dipikat melalui event-event itu, kerap loyal dalam membelanjakan uangnya di Yogyakarta.

Spending money-nya tinggi, multiplayer effect-nya luas, mulai hotel, restoran, transportasi, destinasi kuliner oleh-oleh semua ikut terdampak,” ujarnya.

Yogyakarta dengan daya tarik budaya dan sejarahnya, membuat kota itu digemari penyelenggara MICE untuk menggelar event. Persoalannya, venue untuk menunjang perhelatan MICE di Yogyakarta. Perhelatan MICE selama ini masih terpusat di titik titik tertentu. Misalnya, untuk acara yang skalanya luas dan besar, venue yang jadi andalan tak lain Jogja Expo Center atau JEC.

Pengunjung mengamati motor modifikasi di ajang Kustomfest 2013, Jogja Expo Center (JEC), Bantul, Yogyakarta, (6/10). Pameran ini untuk memperkenalkan kreativitas dan kemampuan modifikasi otomotif anak-anak negeri. TEMPO/Suryo Wibowo.

Singgih menilai, Yogyakarta butuh venue lebih banyak sehingga tersebar saat ada pameran atau kegiatan, yang berhubungan dengan MICE ini, “Masih perlu (venue) lebih banyak,” ujarnya.

Hal serupa diungkapkan Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Daerah Istimewa Yogyakarta, Deddy Pranawa. Menurutnya Yogyakarta butuh lebih banyak venue untuk mendorong MICE ini, lebih berkembang merata dan menggeliatkan kunjungan wisatawan.

Menurut Deddy, jika Yogyakarta hanya mengandalkan venue yang ada seperti JEC, dirasa masih kurang, “Untuk menambah venue MICE, pemerintah bisa menggandeng investor untuk membangun seperti di dekat kawasan bandara baru di Kulon Progo,” ujarnya.

Alasan Deddy, venue di kawasan Kulon Progo untuk menangkap event potensial yang butuh kedekatan jarak dengan bandara, “Jadi ketika wisatawan turun dari bandara itu, tak langsung bablas ke Borobudur, tapi bisa mampir di venue dekat bandara itu,” ujarnya.

Deddy pun mengungkap, dari hasil pertemuan dengan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X, sempat pula disinggung wacana untuk memperluas kawasan JEC agar lebih presentatif lagi menjadi pendukung MICE.

Namun Ketua Asosiasi Perusahaan Pameran Indonesia (Asperapi) Yogyakarta Syamsun Hasani yang juga kontraktor stan yang kerap menggelar berbagai pameran di Yogyakarta, menilai Yogyakarta saat ini belum terlalu butuh venue baru.

“Sebab saat ini di Yogyakarta makin banyak pameran-pameran digelar di venue yang disediakan mall, tak terpusat seperti harus di JEC lagi,” ujarnya.

Pertimbangan penyelenggara yang menggelar pameran di mall, biasanya karena melihat pengunjungnya sudah pasti dan lebih hemat biaya, “Kalau kami memakai venue khusus, biasanya harus keluar biaya promosi sendiri untuk mendatangkan pengunjung, ini sering jadi pertimbangan,” ujarnya.


  • -

Strategi untuk Tingkatkan Wisatawan MICE 2020 Di Jakarta

Category : News

JAKARTA, KOMPAS.com – Tren wisatawan MICE tahun 2019 mengalami penurunan sebesar 10 persen dibanding tahun sebelum.

Staf Ahli Kemenparekraf Bidang Perekonomian dan Pengembangan Wisata Anang Sutono menyampaikan, jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Jakarta dalam rangka MICE hanya 2.094.697 orang. Jumlah ini diprediksi tak akan mencapai target 3 juta wisman pada akhir tahun. Menurut Anang, hal ini terjadi karena berbagai faktor.

Namun satu cara yang harus dilakukan agar tren wisatawan MICE pada 2020 bisa meningkat adalah dengan adanya sinergi dari berbagai pihak yang terlibat. “Kita mau ngomong apa saja kalau tidak dikeroyok ramai-ramai itu percuma.

Nanti orang bisnis ke mana, pemerintah ke mana, media nulis apa, kalau tidak kompak bisa rugi. Ini masalah sinergi, permasalahan klasik yang tidak pernah selesai,” ujar Anang kala ditemui Kompas.com pada acara Focus Group Discussion MICE sebagai Motor Perekonomian Jakarta pada Senin (9/12/2019).

Menurutnya, Jakarta memiliki banyak potensi untuk menjadi kota destinasi MICE nomor satu di Indonesia. Namun saat ini Jakarta masih kalah posisi dibandingkan Bali dan Yogyakarta. Besarnya anggaran disebutkan Anag tak akan berpengaruh besar jika tak ada sinergi yang baik antara pihak yang terlibat. “Potensi (Jakarta) kan tidak mungkin tidak. MICE itu bagian dari event.

Jali bisa menggerakkan event yang ada MICE-nya ada sport event juga. Kita cuma kurang kompak. Politisi juga harus diajak biar bisa menyetujui anggaran yang cukup,” tutur Anang. Menurutnya, dalam mengembangkan MICE tak bisa sembarangan. Pertumbuhan tren wisatawan MICE tak hanya berpacu pada angka kedatangan wisatawan saja.

Namun juga bergantung pada aspek-aspek Compound, Average, Growth, dan Ratio atau CAGR. Pertumbuhan jumlah wisman MICE yang datang harus bergerak positif dengan jumlah uang yang mereka keluarkan kala berwisata di Indonesia. “Kalau kemarin hanya sekitar 1.200 dollar AS per kedatangan per pax. Bagaimana caranya ini supaya tumbuh, jangan stagnan atau malah turun. Caranya untuk bagus? Length of staying harus bertambah,” jelas Anang.

Sumber : https://travel.kompas.com/


  • -

Pemprov DKI Akan Sulap Situ Rawabadung Jadi Destinasi Wisata Air

Category : News

JAKARTA, KOMPAS.com – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berupaya menjadikan Situ Rawabadung, Cakung, Jakarta Timur, sebagai destinasi wisata air. Kepala Suku Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jakarta Timur Iwan Henry Wardhana mengatakan, rencana menyulap Situ Rawabadung menjadi destinasi wisata lokal sudah dimulai sejak lama. Menurut Iwan, untuk bisa menata situ tersebut menjadi destinasi wisata harus berkolaborasi dengan berbagai pihak terkait termasuk elemen masyarakat lokal.

“Situ Rawabadung sudah direncanakan sejak lama untuk dijadikan kawasan wisata tapi asal muasal diinisiasi oleh masyarakat sendiri. Mereka melihat bahwa Rawabadung ini bagusnya potensinya dijaga, punya kualitas yang sangat baik untuk dijadikan destinasi wisata lokal. Misalkan buat mancing, wisata apung dan lain-lain,” kata Iwan saat dikonfirmasi Kompas.com, Selasa (3/12/2019). Iwan menjelaskan, pihaknya belum bisa memastikan kapan penataan Situ Rawabadung dimulai. Kendati demikian, pembahasan rencana tersebut sedang berlangsung dan dalam tahap menyusun master plan situ tersebut untuk menjadi destinasi wisata lokal. “Rencananya itu harus dibikin dulu master plannya atau grand desainnya seperti apa gitu. Tapi untuk mengarah ke sana ya sudah pasti karena warga sih senang banget bikin kayak gitu. Iya itu sudah dibahas, sudah berjenjang, bahkan dari dewan sudah memikirkan kawasan itu menjadi kawasan wisata yang baik untuk lokal punya yah, semacam itu,” ujar Iwan.

Sumber : https://megapolitan.kompas.com/


  • -

Hadiri Raker Konektivitas Pariwisata, Luhut Bicara Pentingnya Infrastruktur

Jakarta – Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi membuka rapat kerja soal konektivitas pariwisata. Luhut mengingatkan pentingnya pembangunan infrastruktur.

“Kenapa infrastruktur harus dibangun? Ya karena semua berkaitan dengan cost, biaya, jadi kalau kita mau negeri ini bagus untuk anak cucu kita, maka harus menurunkan cost, apapun yang kita lakukan harus berbicara costcost efisiensi dan efektifitas,” ujar Luhut dalam rapat kerja di Hotel Mercure, Kemayoran, Jakarta, Selasa (3/12/2019).

Luhut mengatakan dalam pembangunan konektivitas pariwisata, semua pihak harus kompak. Dia mengingatkan agar tak ada kebocoran dalam pembangunan konektivitas pariwisata.

“Apapun yang kita kerjakan kalau kita kompak, kita bisa, dan sekarang makin tertib, jadi saya minta pada teman sekalian, kalau seperti gaya-gaya yang lalu ada kebocoran sana sini, itu akan persulit kita semua dan persulit pribadi kita, karena itu kerja disiplin, kerja dengan hati, dan profesional,” ucap Luhut.

 

Sumber : https://news.detik.com/