• -

Grup Hotel Sahid Menangkap Peluang MICE Di Kampus Yogyakarta

Category : News

TEMPO.COYogyakarta – Sebagai destinasi MICE utama selain Bali dan Jakarta, Yogyakarta sangat siap menerima tamu berbagai konferensi internasional dan meeting. Salah satu hotel yang membidik pasar MICE di Yogyakarta adalah Sahid Raya Hotel & Convention Yogyakarta.

Terletak di tengah-tengah kawasan kampus di Babarsari, Sleman, yang dikenal tak pernah tidur dari aktivitas, hotel bintang empat itu memiliki keunggulan space konvensinya. Berada di tengah kampus, membuatnya dekat dengan bisnis pertemuan. Pasalnya, dunia akademik kerap menggelar pertemuan internasional.

“Kami memiliki ballroom seluas 833 meter persegi yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan. Mulai wedding, konser, gathering, seminar
dan congress meeting,” ujar General Manager Sahid Raya Hotel & Convention Yogyakarta, Joko Paromo kepada TEMPO, Senin 13 Januari 2020.

Yang juga jelas jadi andalan konvensi di Hotel Sahid itu, spot itu bisa dipergunakan untuk pelayanan mencapai 1.000 round table sekaligus dan ruang theatre berkapasitas mencapai 3.000 orang.

Namun, Joko menuturkan luasnya area konvensi belum sepenuhnya bisa dipakai mengukur kenyamanan. Ada variabel krusial dalam menyediakan area konvensi agar menambah nyaman penggunanya, yakni variabel ceiling atau jarak dari lantai ke langit-langit konvensi.

Ballroom Sahid Hotel Yogyakarta. Tempo/Pribadi Wicaksono

“Andalan ruang konvensi di Sahid ini, ukuran ceiling-nya mencapai tinggi 12 meter, jadi membuat orang merasa sangat lega saat duduk di dalam walau sedang penuh orang,” ujar Joko. Ketinggian langit-langit itu, juga memungkinkan membuat tata panggung yang megah.

Joko tak menampik jika penyelanggara event yang membuat berbagai perhelatan memilih Sahid Raya Hotel & Convention Yogyakarta juga karena faktor klasik: area parkirnya luas serta berada di lokasi yang sangat mudah terjangkau.

“Fasilitas konvensi di sini pun juga dilengkapi standar tata suara yang sesuai, mini garden, termasuk LCD dan screen,” ujarnya.

Sahid Raya Hotel & Convention Yogyakarta memiliki posisi yang terbilang sangat strategis karena dikelilingi beragam wisata kuliner, kampus ternama, pusat perbelanjaan, dan sangat dekat menuju Bandara Adisutjipto.

Keunggulan Sahid Raya Yogyakarta juga tersambung langsung dengan J-Walk Mal, sehingga para tamu bisa melakukan aktivitas berbelanja, hiburan atau sekedar nongkrong di coffee shop.

 

 

Sumber : https://travel.tempo.co/


  • -

Dispar Bali Genjot Potensi Pariwisata MICE

Category : News

DENPASAR, NusaBali.com
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, I Putu Astawa menyampaikan pariwisata Bali ke depan bakal diubah agar menjadi lebih berkualitas. Pasalnya selama ini pariwisata Bali terlalu nyaman dengan wisatawan leasure dalam bentuk mass tourism. “Ke depannya kita harus ubah, kita harus menuju quality tourism. Salah satunya adalah MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition). Karena hal ini sudah terbukti bisa membangkitkan pereknomian Bali saat adanya isu Gunung Agung meletus,” ungkapnya dalam dialog interaktif ‘Ekonomi Bali tahun 2020 di Tengah Dominasi Pariwisata’, Selasa (7/1/2020).
Ia menambahkan orientasi pasar juga perlu diubah karena banyak negara-negara yang dulu merupakan pasar potensial, sekarang sudah tidak lagi. Justru mereka hanya bisa mendatangkan wisatawan kelas bawah. Sementara itu Astawa menilai Vietnam saat ini justru memiliki pertumbuhan ekinomi yang cukup bagus. Dengan demikian promosi ke negara Vietnam perlu digalakkan sehingga nantinya wisatawan yang datang adalah wisatawan premium yang berkualitas.
Tak hanya mempromosikan wisata MICE, tahun ini Dinas Pariwisata juga akan menyelenggarakan perhelatan pariwisata yang berskala internasional di Bali, seperti,: Kintamani Chinese Festival 8 Februari 2020, Bali and Beyond Travel Fair (BBTF) bulan Juni 2020 dan Mekepung Gubernur Cup pada Bulan Juli 2020. “Dengan menciptakan event di Bali maka selain mampu sebagai media promosi, sekakigus akan bermanfaat bagi perekonomian masyarakat,” ujarnya. Astawa mengungkapkan, hingga Desember 2019 jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali sudah mencapai 6,7 Juta.
Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Bali,  Adi Nugroho mengatakan jika sumbangan pariwisata terhadap perekonomian Bali mencapai 50,84 persen. Ia mengatakan beberapa perhelatan internasional yang diselenggarakan di Pulau Bali mampu memberikan efek terhadap pertumbuhan ekonomi Bali. “Sepuluh tahun terakhir pertumbuhan ekonomi didominasi dari sektor pariwisata, meskipun sektor lain juga sudah dikembangkan tapi pariwisata tetap paling atas,” jelasnya.
Selain itu, tingginya harga tiket domestik sempat mengganggu kunjungan wisatawan, akan terapi tidak berpengaruh besar. Capaian tiap bulan hampir selalu memecahkan rekor dari bulan yang sama di tahun sebelumnya.
Ia mengungkapkan rata-rata kunjungan wisman per bulan ke Bali mencapai 600 ribu orang. “Sampai saat ini kondisi sektor pariwisata dalam kondisi aman, dan tidak perlu terlalu kawatir. Tetapi jangan juga terlalu tergantung dari sektor pariwisata. Harus tetap mengembangkan sektor lain, untuk berjaga-jaga kalau sektor pariwisata kolaps,” pungkasnya.
Sumber : https://www.nusabali.com/

  • -

Menggairahkan MICE, Yogyakarta Butuh Venue Lebih Banyak?

Category : News

TEMPO.COJakarta – Pemerintah DI Yogyakarta tak menampik salah satu kunci Yogyakarta mampu mendatangkan wisatawan, tak semata karena memiliki kekayaan tradisi, budaya dan destinasinya.

Selain modal besar di bidang pariwisata itu, wisatawan berprofil tinggi bisa diundang ke Yogyakarta melalui sektor MICE atau meeting, incentive, convention, and exhibition atau pertemuan, insentif, konvensi, dan pameran.

“Sektor MICE Yogyakarta efektif untuk mendatangkan wisatawan, terutama untuk event meeting yang melibatkan grup,” ujar Kepala Dinas Pariwisata DIY Singgih Sapto Rahardjo Selasa 7 Januari 2020. Singgih menuturkan wisatawan yang dipikat melalui event-event itu, kerap loyal dalam membelanjakan uangnya di Yogyakarta.

Spending money-nya tinggi, multiplayer effect-nya luas, mulai hotel, restoran, transportasi, destinasi kuliner oleh-oleh semua ikut terdampak,” ujarnya.

Yogyakarta dengan daya tarik budaya dan sejarahnya, membuat kota itu digemari penyelenggara MICE untuk menggelar event. Persoalannya, venue untuk menunjang perhelatan MICE di Yogyakarta. Perhelatan MICE selama ini masih terpusat di titik titik tertentu. Misalnya, untuk acara yang skalanya luas dan besar, venue yang jadi andalan tak lain Jogja Expo Center atau JEC.

Pengunjung mengamati motor modifikasi di ajang Kustomfest 2013, Jogja Expo Center (JEC), Bantul, Yogyakarta, (6/10). Pameran ini untuk memperkenalkan kreativitas dan kemampuan modifikasi otomotif anak-anak negeri. TEMPO/Suryo Wibowo.

Singgih menilai, Yogyakarta butuh venue lebih banyak sehingga tersebar saat ada pameran atau kegiatan, yang berhubungan dengan MICE ini, “Masih perlu (venue) lebih banyak,” ujarnya.

Hal serupa diungkapkan Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Daerah Istimewa Yogyakarta, Deddy Pranawa. Menurutnya Yogyakarta butuh lebih banyak venue untuk mendorong MICE ini, lebih berkembang merata dan menggeliatkan kunjungan wisatawan.

Menurut Deddy, jika Yogyakarta hanya mengandalkan venue yang ada seperti JEC, dirasa masih kurang, “Untuk menambah venue MICE, pemerintah bisa menggandeng investor untuk membangun seperti di dekat kawasan bandara baru di Kulon Progo,” ujarnya.

Alasan Deddy, venue di kawasan Kulon Progo untuk menangkap event potensial yang butuh kedekatan jarak dengan bandara, “Jadi ketika wisatawan turun dari bandara itu, tak langsung bablas ke Borobudur, tapi bisa mampir di venue dekat bandara itu,” ujarnya.

Deddy pun mengungkap, dari hasil pertemuan dengan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X, sempat pula disinggung wacana untuk memperluas kawasan JEC agar lebih presentatif lagi menjadi pendukung MICE.

Namun Ketua Asosiasi Perusahaan Pameran Indonesia (Asperapi) Yogyakarta Syamsun Hasani yang juga kontraktor stan yang kerap menggelar berbagai pameran di Yogyakarta, menilai Yogyakarta saat ini belum terlalu butuh venue baru.

“Sebab saat ini di Yogyakarta makin banyak pameran-pameran digelar di venue yang disediakan mall, tak terpusat seperti harus di JEC lagi,” ujarnya.

Pertimbangan penyelenggara yang menggelar pameran di mall, biasanya karena melihat pengunjungnya sudah pasti dan lebih hemat biaya, “Kalau kami memakai venue khusus, biasanya harus keluar biaya promosi sendiri untuk mendatangkan pengunjung, ini sering jadi pertimbangan,” ujarnya.


  • -

Strategi untuk Tingkatkan Wisatawan MICE 2020 Di Jakarta

Category : News

JAKARTA, KOMPAS.com – Tren wisatawan MICE tahun 2019 mengalami penurunan sebesar 10 persen dibanding tahun sebelum.

Staf Ahli Kemenparekraf Bidang Perekonomian dan Pengembangan Wisata Anang Sutono menyampaikan, jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Jakarta dalam rangka MICE hanya 2.094.697 orang. Jumlah ini diprediksi tak akan mencapai target 3 juta wisman pada akhir tahun. Menurut Anang, hal ini terjadi karena berbagai faktor.

Namun satu cara yang harus dilakukan agar tren wisatawan MICE pada 2020 bisa meningkat adalah dengan adanya sinergi dari berbagai pihak yang terlibat. “Kita mau ngomong apa saja kalau tidak dikeroyok ramai-ramai itu percuma.

Nanti orang bisnis ke mana, pemerintah ke mana, media nulis apa, kalau tidak kompak bisa rugi. Ini masalah sinergi, permasalahan klasik yang tidak pernah selesai,” ujar Anang kala ditemui Kompas.com pada acara Focus Group Discussion MICE sebagai Motor Perekonomian Jakarta pada Senin (9/12/2019).

Menurutnya, Jakarta memiliki banyak potensi untuk menjadi kota destinasi MICE nomor satu di Indonesia. Namun saat ini Jakarta masih kalah posisi dibandingkan Bali dan Yogyakarta. Besarnya anggaran disebutkan Anag tak akan berpengaruh besar jika tak ada sinergi yang baik antara pihak yang terlibat. “Potensi (Jakarta) kan tidak mungkin tidak. MICE itu bagian dari event.

Jali bisa menggerakkan event yang ada MICE-nya ada sport event juga. Kita cuma kurang kompak. Politisi juga harus diajak biar bisa menyetujui anggaran yang cukup,” tutur Anang. Menurutnya, dalam mengembangkan MICE tak bisa sembarangan. Pertumbuhan tren wisatawan MICE tak hanya berpacu pada angka kedatangan wisatawan saja.

Namun juga bergantung pada aspek-aspek Compound, Average, Growth, dan Ratio atau CAGR. Pertumbuhan jumlah wisman MICE yang datang harus bergerak positif dengan jumlah uang yang mereka keluarkan kala berwisata di Indonesia. “Kalau kemarin hanya sekitar 1.200 dollar AS per kedatangan per pax. Bagaimana caranya ini supaya tumbuh, jangan stagnan atau malah turun. Caranya untuk bagus? Length of staying harus bertambah,” jelas Anang.

Sumber : https://travel.kompas.com/


  • -

Pemprov DKI Akan Sulap Situ Rawabadung Jadi Destinasi Wisata Air

Category : News

JAKARTA, KOMPAS.com – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berupaya menjadikan Situ Rawabadung, Cakung, Jakarta Timur, sebagai destinasi wisata air. Kepala Suku Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jakarta Timur Iwan Henry Wardhana mengatakan, rencana menyulap Situ Rawabadung menjadi destinasi wisata lokal sudah dimulai sejak lama. Menurut Iwan, untuk bisa menata situ tersebut menjadi destinasi wisata harus berkolaborasi dengan berbagai pihak terkait termasuk elemen masyarakat lokal.

“Situ Rawabadung sudah direncanakan sejak lama untuk dijadikan kawasan wisata tapi asal muasal diinisiasi oleh masyarakat sendiri. Mereka melihat bahwa Rawabadung ini bagusnya potensinya dijaga, punya kualitas yang sangat baik untuk dijadikan destinasi wisata lokal. Misalkan buat mancing, wisata apung dan lain-lain,” kata Iwan saat dikonfirmasi Kompas.com, Selasa (3/12/2019). Iwan menjelaskan, pihaknya belum bisa memastikan kapan penataan Situ Rawabadung dimulai. Kendati demikian, pembahasan rencana tersebut sedang berlangsung dan dalam tahap menyusun master plan situ tersebut untuk menjadi destinasi wisata lokal. “Rencananya itu harus dibikin dulu master plannya atau grand desainnya seperti apa gitu. Tapi untuk mengarah ke sana ya sudah pasti karena warga sih senang banget bikin kayak gitu. Iya itu sudah dibahas, sudah berjenjang, bahkan dari dewan sudah memikirkan kawasan itu menjadi kawasan wisata yang baik untuk lokal punya yah, semacam itu,” ujar Iwan.

Sumber : https://megapolitan.kompas.com/


  • -

Hadiri Raker Konektivitas Pariwisata, Luhut Bicara Pentingnya Infrastruktur

Jakarta – Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi membuka rapat kerja soal konektivitas pariwisata. Luhut mengingatkan pentingnya pembangunan infrastruktur.

“Kenapa infrastruktur harus dibangun? Ya karena semua berkaitan dengan cost, biaya, jadi kalau kita mau negeri ini bagus untuk anak cucu kita, maka harus menurunkan cost, apapun yang kita lakukan harus berbicara costcost efisiensi dan efektifitas,” ujar Luhut dalam rapat kerja di Hotel Mercure, Kemayoran, Jakarta, Selasa (3/12/2019).

Luhut mengatakan dalam pembangunan konektivitas pariwisata, semua pihak harus kompak. Dia mengingatkan agar tak ada kebocoran dalam pembangunan konektivitas pariwisata.

“Apapun yang kita kerjakan kalau kita kompak, kita bisa, dan sekarang makin tertib, jadi saya minta pada teman sekalian, kalau seperti gaya-gaya yang lalu ada kebocoran sana sini, itu akan persulit kita semua dan persulit pribadi kita, karena itu kerja disiplin, kerja dengan hati, dan profesional,” ucap Luhut.

 

Sumber : https://news.detik.com/


  • -

Curug Gondoriyo Jadi Destinasi Wisata Baru Di Semarang

Jakarta – Jumlah wisatawan yang mencapai 5,7 juta orang pada 2018 belum membuat Pemerintah Kota Semarang berhenti berinovasi. Pemkot Semarang pun makin giat mengembangkan wisata kearifan lokal.

“Akan kita arahkan, wisatawan itu tidak hanya ke Sam Poo Kong, Lawang Sewu, Kota Lama, atau Semarang Bridge Fountain, tapi juga masuk ke pariwisata yang mengutamakan kearifan lokal seperti di Gondoriyo ini,” ungkap Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi dalam keterangan tertulis, Senin (2/12/2019).

Kelurahan Gondoriyo memiliki destinasi baru bernama Curug Gondoriyo dan berpotensi besar untuk dikembangkan menjadi wisata kearifan lokal yang menarik.

“Saya mendengar ada namanya curug di Gondoriyo kurang lebih pada awal tahun 2019. Kemudian diberi lampu-lampu, dibuat spot foto-foto instagramable dan alhamdulillah jadi viral,” ungkap pria yang akrab disapa Hendi ini.

Curug Gondoriyo mulai awal tahun ini menarik banyak minat wisatawan salah satunya karena pengelola mempercantik curug saat malam hari menggunakan lampu warna-warni. Curug setinggi 20 meter ini juga unik karena terdapat gua sepanjang 2.5 meter di dalam air terjun. Meski demikian, menurut Hendi Curug Gondoriyo masih memerlukan pembenahan.

“Tempat pariwisata itu yang pertama adalah aksesnya harus gampang. Aksesibilitas itu macam-macam, mulai dari transportasi umumnya sampai jalan masuknya,” ungkapnya.

Hal tersebut diungkapkan karena saat berkunjung pertama kalinya ke curug tersebut Hendi menilai akses jalan susah dijangkau. Pihaknya pun meminta kepada dinas terkait agar akses jalan diperbaiki berupa paving blok pada akhir tahun ini.

Ia juga berpesan agar Gondoriyo menggelar atraksi kesenian sebagai pemikat wisatawan secara kontinyu.

“Kesenian itu harus rutin diadakan, sehingga orang datang ke sini tidak hanya menikmati kecantikan curug ini tapi juga ada event atraksi, ada lesung, setap hari ada yang masak jenang, jangan setahun sekali,” pesan Hendi.

Gondoriyo memiliki sejumlah kesenian yang dapat dikategorikan sebagai wisata kearifan lokal karena memiliki sejumlah kesenian berupa Susrukwangan & Gejluk Lesung. Hingga ragam kuliner lokal seperti Jenang Gondoriyo, Nasi Bleduk dan Wedang Sinom.

Sumber : https://news.detik.com/


  • -

Nikmati Perjalanan Dengan Kereta Wisata

Category : News

Kereta Api Indonesia memiliki tujuh jenis gerbong kereta wisata dengan pelayanan dan fasilitas mewah. Kereta itu adalah Kereta Wisata Jawa, Kereta Wisata Nusantara, Kereta Wisata Toraja, Kereta Wisata Bali, Kereta Wisata Sumatera, Kereta Wisata Imperial, dan Kereta Wisata Priority. Dari luar, seluruh bodi gerbong kereta wisata ini berkelir merah hati dan dikaitkan pada rangkaian paling belakang.

Tempo sempat naik Kereta Wisata Jawa dan Kereta Wisata Priority saat tur bersama Agoda untuk pergi dan pulang dari Bandung pada Selasa-Rabu, 26-27 November 2019. Kereta Wisata Jawa dengan kapasitas 20 penumpang, memiliki fasilitas karaoke, ruang makan, mini bar, sofa, kamar tidur, dan toilet. Adapun Kereta Wisata Priority mampu menampung 30 penumpang dengan fasilitas kursi eksklusif untuk masing-masing orang, mini bar, ruang makan, dan karaoke.

Untuk menggunakan layanan kereta wisata ini, calon penumpang harus mendaftar dulu ke PT. Kereta Api Indonesia. Biayanya mulai Rp 17 juta, tergantung jauh dekat perjalanan.

 

Sumber : Tempo.co


  • -

Tiket Rp 14 Juta Wisata Pulau Komodo, Ini PR Berat Jokowi!

Jakarta, CNBC Indonesia – Skotlandia meraup Rp746 miliar per tahun dari wisata berbasis mitos, yakni naga Nessie di DanauLochness. Indonesia, negeri di mana naga benar-benar ada dan melata, berencana menggarap Pulau Komodo menjadi wisata premium. Layakkah?

Rencana itu mengemuka Senin (30/9/2019) lalu setelah rapat rencana pengembangan Taman Nasional (TN) Komodo, Nusa Tenggara Timur, yang merupakan cagar biosfer hewan endemik Komodo (Komodo Dragon) pada 1977 dan world heritage pada 1991.

Rapat itu dihadiri Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar dan Gubernur NTT Victor Laiskodat. Siti menyebutkan bahwa Taman Nasional Komodo akan ditata menjadi wisata premium.

Terakhir, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama bersama tim Kemenparekraf melakukan kunjungan kerja ke beberapa destinasi wisata super prioritas, termasuk di antaranya Pulau Komodo, pada Jumat (29/11/2019).

“Hari ini, kami mengeksplorasi beberapa sudut terindah Destinasi Super Prioritas ini dalam rangka mengawal progres pembangunan Labuan Bajo sebagai Destinasi Super Premium,” kata Wishnutama dalam caption unggahan Instagramnya di Pulau Komodo.

Rencana tersebut sempat memicu pro-kontra di sosial media. Sebagian netizen menilai itu sebagai bentuk komersialisasi mengingat tiket masuk ke Taman Nasional Komodo direncanakan sebesar US$1.000 atau setara Rp 14 juta.

Gubernur NTT Viktor B Laiskodat mengukuhkan kesan ini setelah terang-terangan menyatakan bahwa NTT hanya untuk wisatawan kaya. “Oleh karena itu wisatawan yang miskin jangan datang berwisata ke NTT, karena memang sudah dirancang untuk wisatawan yang berduit,” kata Viktor Laiskodat di Kupang, NTT, Kamis (14/11), sebagaimana dikutip Detik.com.

Menurut catatan Tim Riset CNBC Indonesia, wisata premium bukanlah hal baru dalam praktik industri wisata global. Indonesia terhitung terlambat dibanding negara lain yang sudah menggarapnya, seperti Maladewa (Maldives), Australia, dan Selandia Baru (New Zealand).

Secara Natural Pulau Komodo Idealnya Wisata Premium, Tapi..Foto: Sumber: IE University

Mengacu pada Selandia Baru, separuh dari wisatawan premium mereka berasal dari Negara Adidaya yakni Amerika Serikat (AS). Dalam strategi nasionalnya, mereka membidik wisata premiumnya secara ekslusif. Bukan untuk 15 juta kaum kaya dunia, melainkan 1,5 juta orang dari situ yang minimal penghasilannya adalah US$5 juta (Rp 70 miliar) setahun.

Secara Natural Pulau Komodo Idealnya Wisata Premium, Tapi..Foto: Sumber: IE University

Yang digarap bukan asal masyarakat tajir (high net worth individual/HNWI), melainkan pasar tajir melintir (very high HNWI) dan super tajir (ultra HNWI). World Wealth Report (2013) menyebutkan kaum elit ini membelanjakan minimal US$50.000 (Rp 700 juta) sekali kunjungan.

 

Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/


  • -

Ada Sport Tourism, Begini Dampaknya Bagi Kota Kecil

Category : News

TEMPO.COJakarta – Perhelatan event olahraga atau sport tourism berupa “Muba Asia Auto Gymkhana Cup 2019″ yang dihelat pada Minggu, 29 November – 1 Desember 2019 di Sirkuit Skyland, Sekayu, berakhir hari Minggu (1/12) kemarin.

Perhelatang yang diikuti 28 pembalap dari 10 negara itu, dirajai pembalan nasional. Selain berdampak fositif bagi pembinaan olahraga otomotif, perhelatan itu membawa berkah bagi pengusaha hotel, restoran dan pelaku wisata lainnya di bumi Serasan Sekate itu.

“Multi efeknya bukan hanya hari ini, kami yakini sport tourism seperti ini dampaknya akan panjang,” kata Muhammad Fariz, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Musi Banyuasin (Muba), Sumatera Selatan, Senin, 2 Desember 2019.

Dalam keterangannya, Fariz menjelaskan beberapa hotel dan sarana akomodasi lainnya menjadi penuh. Tamu-tamu di hotel tersebut berasal dari peserta dan official dari 10 negara di Asia.
Hotel-hotel juga dipenuhi para penonton yang datang dari Palembang, Jakarta dan dari kota-kota lainnya. Hotel Ranggonang sebagai salah satu hotel terbesar di kota Sekayu misalnya, menjadi full booked lantaran kedatangan tamu sejak sepekan terakhir ini.
Sport event mendorong pula pariwisata di Kabupaten Musi Banyuasin. Foto: @langgeng_putra
Hal sama kata Fariz juga dirasakan oleh usaha restoran cita rasa lokal seperti rumah makan pindang, rumah makan padang dan sejenisnya, “Secara langsung kami telah merasakan dampak baiknya,” ujar Fariz.
Bahkan kata Fariz untuk hajatan supermoto yang akan digelar di sirkuit yang sama pada 7-8 Desember, beberapa hotel sudah dipesan. Dia meyakini tamu yang akan masuk kota Sekayu, akan lebih banyak lagi dibandingkan pada hajatan Muba Asia Auto Gymkhana.
Untuk itu dia telah meminta pelaku industry wisata untuk lebih meningkatkan pelayanan agar membawa kesan baik bagi para tamu. Sehingga pada kesempatan lainnya, Sekayu akan menjadi daya tarik bagi wisatawan.
Sementara itu, Ketua Panitia Pusat “Muba Auto Gymkhana Cup 2019” Siswanto Budi mengucapkan terima kasih kepada Bupati Muba Dodi Reza dan seluruh warga yang sukses menjadi tuan rumah yang baik. Menurutnya, event Asia Gymkhana dan Super Moto sangat pas dan pantas digelar di Skyland Muba.
Tidak hanya dukungan warga, kenyamanan melaksanakan event balap di Muba ini, juga karena sarana prasaran dan fasilitas yang lengkap dan sangat menunjang untuk level internasional. Hal itu katanya sangat berbeda pada kondisi beberapa tahun sebelumnya, para peserta harus diinapkan di hotel-hotel yang ada di Palembang. Kondisi tersebut akan merepotkan panitia dan melelahkan bagi para peserta.
Sedangkan Riduan Tumenggung menjelaskan sebanyak 28 pebalap asal 10 negara di Asia turun dalam ajang Muba Asia Auto Gymkhana Cup 2019 di Sirkuit Skyland, Sekayu.
Sejak Sabtu 30 November, pebalap telah tiba di Sekayu di antaranya dari Thailand, Kamboja, Hongkong, Taiwan, Vietnam, Malaysia, Singapura, dan India.
Pembalap Wanita
Di antara puluhan pembalap itu, terdapat peslalom perempuan, Ng Aik Sha, 29 tahun asal Malaysia dan Yap Hui Ching asal Singapura. Selain pembalap, Aik Sha dikenal sebagai pharmacist di sebuah rumah sakit di Kuala Lumpur. “Tertarik ikut Ghymkhana sejak tamat kuliah,” katanya, Minggu siang.
Aik Sha menamatkan kuliah sejak 2014 silam di Cyberjaya University College of Medical Sciences (CUCMS) di Kuala Lumpur. Sejak saat itu selain menjalankan rutinitas di bidang farmasi atau obat-obatan, ia mulai menekuni impiannya untuk menjadi pembalap andal untuk kawasan Asia. Untuk mewujudkan impiannya itu ia rutin menggelar latihan bersama rekan-rekan di Kuala Lumpur. Selain itu, sejumlah kejuaran tingkat regional dan asia sering pula di ikuti.
Sumber : https://travel.tempo.co/