• -

Hadiri Raker Konektivitas Pariwisata, Luhut Bicara Pentingnya Infrastruktur

Jakarta – Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi membuka rapat kerja soal konektivitas pariwisata. Luhut mengingatkan pentingnya pembangunan infrastruktur.

“Kenapa infrastruktur harus dibangun? Ya karena semua berkaitan dengan cost, biaya, jadi kalau kita mau negeri ini bagus untuk anak cucu kita, maka harus menurunkan cost, apapun yang kita lakukan harus berbicara costcost efisiensi dan efektifitas,” ujar Luhut dalam rapat kerja di Hotel Mercure, Kemayoran, Jakarta, Selasa (3/12/2019).

Luhut mengatakan dalam pembangunan konektivitas pariwisata, semua pihak harus kompak. Dia mengingatkan agar tak ada kebocoran dalam pembangunan konektivitas pariwisata.

“Apapun yang kita kerjakan kalau kita kompak, kita bisa, dan sekarang makin tertib, jadi saya minta pada teman sekalian, kalau seperti gaya-gaya yang lalu ada kebocoran sana sini, itu akan persulit kita semua dan persulit pribadi kita, karena itu kerja disiplin, kerja dengan hati, dan profesional,” ucap Luhut.

 

Sumber : https://news.detik.com/


  • -

Wishnutama Tegaskan Labuan Bajo Jadi Wisata Super Premium

Labuan Bajo – Menparekraf Wishnutama tegaskan Labuan Bajo akan menjadi destinasi wisata super premium dari Indonesia. Ia sudah menilik langsung rumah dari komodo dan gugusan pulaunya yang cantik.

“Potensi wisata Labuan Bajo, NTT memang luar biasa. Hari ini, kami mengeksplorasi beberapa sudut terindah Destinasi Super Prioritas ini dalam rangka mengawal progres pembangunan Labuan Bajo sebagai Destinasi Super Premium yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo,” kata Wishnutama dalam unggahan Instagram terbarunya, Jumat (29/11/2019).

Menparekraf juga ditemani wakilnya, Angela Tanoesoedibjo dalam kunjungan ke Labuan Bajo dan sekitarnya. Tim Kemenparekraf disambut oleh Kapolda NTT Irjen Pol Hamidin, Wakil Bupati Manggarai Barat Maria Geong, Dirut Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo Flores (BOPLBF) Shana, Kadispar NTT Wayan Darmawa.

Destinasi pertama yang mereka kunjungi adalah Pulau Padar dan Pink Beach. Katanya, pulau itu memiliki pemandangan spektakuler dengan perjalanan selanjutnya mengunjungi komodo di Pulau Komodo dan Rinca.

“Gugusan pulau-pulau dengan bukit-bukit, berpadu dengan birunya air laut sejernih kristal, memanjakan semua mata yang memandang,” jelas Wishnutama.

“Perjalanan kami kemudian dilanjutkan dengan singgah di Pulau Komodo dan Pulau Rinca untuk melihat secara langsung Komodo di alam liar. Kami terpesona dengan satwa dari zaman dinosaurus ini,” imbuhnya.

Tak hanya itu, mereka juga menyapa pedagang cinderamata lokal dan mendengar pendapat guna meningkatkan kualitas produk ekonomi kreatifnya. Wishnutama ingin mengembangkan produk dari Labuan Bajo, seperti kuliner, kriya, seni pertunjukan, musik, fesyen, fotografi, videografi, dan masih banyak lagi.

“Hal ini sesuai dengan arahan Bapak Presiden bahwa ekonomi kreatif harus dapat dirasakan tidak hanya di kota-kota besar tetapi juga di daerah-daerah,” kata dia.

Di akhir unggahan, Wishnutama menegaskan bahwa kawasan Labuan Bajo adalah milik bersama. Ia ingin seluruh stake holder turut membantu menjadikannya sebagai destinasi wisata super premium.

“Pekerjaan rumah kami masih banyak dan Labuan Bajo adalah milik kita bersama. Mari bahu membahu wujudkan Labuan Bajo sebagai Destinasi Wisata Super Premium Indonesia,” pungkas dia.

 

Sumber : https://travel.detik.com/


  • -

Jokowi Janjikan Dana Jumbo Buat Wishnutama, Tapi…

Jakarta, CNBC Indonesia – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan tidak akan ragu memberikan dana jumbo bagi Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio untuk menggencarkan promosi destinasi wisata Indonesia.

Hal tersebut dikemukakan Jokowi saat memberikan pengarahan di depan para pelaku pasar dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (BI) 2019 yang digelar di Raffles Hotel, Jakarta, Kamis (28/11/2019).

“Promosi besar-besaran silahkan Kemenpar. Kalau negara lain dananya 10, menteri pariwisata 20 saya beri,” tegas Jokowi.

Namun, Jokowi mengingatkan bahwa pemberian dana untuk mempromosikan sejumlah destinasi wisata di Indonesia harus tepat sasaran. Jokowi tak ingin, setiap rupiah yang dikeluarkan tak bermanfaat.

“Tapi harus tepat sasaran. Karena ada segmentasinya, ada super premium, premium. Jangan dicampur-campur,” tegas Jokowi.

Pernyataan ini disampaikan Jokowi pasca menjabarkan berbagai upaya pemerintah dalam menarik devisa. Salah satunya, dengan pengembangan 10 Bali Baru yang diharapkan bisa selesai dalam waktu cepat.

“Sekarang ini dalam 3 tahun sampai nanti 2020 hanya fokus di lima tempat. Labuan Bajo, Mandalika, Danau Toba, Borobudur, dan di Manado,” tegasnya.

“Lima selesai 2020, sisanya tiga tahun setelah itu dirampungkan lagi. Kalau produknya selesai, ada calendar of event, kreatif industry di situ fokus dikerjakan,  promosi besar-besaran silahkan.”

Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/


  • -

Menpar Akan Bentuk Deputi MICE, Ini Efeknya

Category : Kemenpar , News

TEMPO.COJakarta – Wisatawan dalam industri MeetingIncentiveConvention, Exhibition (MICE), pengeluarannya jauh lebih besar ketimbang wisatawan leisure. Pentingnya MICE, membuat Kementerian Pariwisata membentuk Direktorat MICE pada 2007.

Namun saat Arief Yahya menjadi Menteri Pariwisata, Direktorat tersebut dihapus. Kini pelaku MICE bisa berharap banyak kepada Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama, yang akan membentuk Deputi khusus, yang menangani bidang Meeting Incentive Convention Exhibition (MICE).

Sebagaimana dinukil dari wartaevent.com, Wishnutama mengatakan sektor event dan MICE juga akan masuk dalam rencana pengembangan pariwisata jangka menengah hingga 2024, “Dalam struktur Kemenparekraf yang baru, akan dibentuk deputi yang khusus dan fokus yang membidangi event dan MICE,” ungkap Wishnutama.
Rombongan wisatawan Tiongkok berjalan menuju lokasi acara Festival Balingkang Kintamani pada Rabu, 6 Februari 2019. Wisata insentif biasanya dalam rombongan besar yang dibiayai perusahaan, pengeluarannya lebih besar dibanding wisatawan leisure. TEMPO | Made Argawa
Wishnutama menyebut bidang MICE dan event sejalan dengan konsep pembangunan pariwisata nasional, yang tak hanya berorientasi pada kuantitas melainkan juga kualitas.
“Pengeluaran turis MICE dapat mencapai 3-4 kali lebih besar dari turis biasa (leisure), sehingga pemasukan devisa juga lebih banyak. MICE dan event juga dapat menjadi strategi untuk mendatangkan wisatawan ketika low season. Dan MICE itu dapat menjadi solusinya,” tambahnya.
Wishnutama menjelaskan untuk membesarkan industri MICE, Kemenparekraf akan bekerja sama dengan stakeholder dan asosiasi. Terutama untuk mengikuti bidding perhelatan MICE internasional, agar dapat diselenggarakan di Indonesia.
Terkait dengan perhelatan kegiatan MICE internasional, ia mengaku mendapat arahan langsung dari Presiden Joko Widodo untuk mempersiapkan Labuan Bajo menjadi tuan rumah penyelenggaraan ASEAN Summit dan G20 pada 2023 mendatang.

 

Sejumlah peserta Pertemuan Tahunan IMF – World Bank Group 2018 mengantre untuk mendapatkan kopi gratis di stan A Cup for Solidarity di arena pertemuan tahunan di Bali Nusa Dua Convention Center, Nusa Dua, Bali, Jumat, 12 Oktober 2018. ICom/AM IMF-WBG/Wisnu Widiantoro
“Saat ini kami juga sedang menjajaki berbagai penyelenggaraan event besar, salah satunya yang sedang kami jajaki dan kami sarankan untuk diselenggarakan di Bali yaitu MTV World Stage” Katanya.

Sumber : https://travel.tempo.co/

 


  • -

INCCA sarankan Wishnutama Fokus Majukan MICE Di Indonesia

Category : Kemenpar , News

Jakarta (ANTARA) – Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Indonesia Congress and Convention Association/Asosiasi Kongres dan Konvensi Indonesia (INCCA/AKKINDO) menyarankan agar Menparekraf Wishnutama fokus memajukan MICE di Indonesia.

Ketua Umum DPP INCCA Iqbal Alan Abdullah di Jakarta, Rabu, mengatakan sesuai dengan UU Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, MICE telah diatur sebagai bagian dari kepariwisataan dan menjadi salah satu usaha jasa pariwisata yaitu “penyelenggaraan pertemuan, perjalanan insentif, konferensi, dan pameran”.

“Itu merupakan terjemahan langsung dari Meeting, Incentive, Conference, Exhibition (MICE), sehingga berbeda pengertiannya dengan ‘event’,” kata Iqbal.

Ia memandang potensi MICE sangat besar dimana saat ini ada puluhan ribu organisasi internasional yang ada di dunia termasuk beberapa di bawah Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) selain asosiasi-asosiasi bisnis, profesi, keahlian, dan lainnya.

Organisasi ini kata dia menyelenggarakan pertemuan-pertemuan secara rutin dalam setiap waktunya.

Untuk itulah kemudian potensi wisata MICE sangat besar khususnya bagi Indonesia yang memiliki daya dukung pengembangan wisata segmen tersebut.

“Dalam konteks inilah kita perlu seseorang yang bisa memahami organisasi-organisasi ini dan melakukan terobosan untuk mendorong agar Indonesia jadi tuan rumah kegiatan pertemuan dari organisasi-organisasi dunia yang strategis. Ini bukan pekerjaan satu orang, tapi memang harus bersama-sama, termasuk dengan diplomat kita di luar negeri, maupun para organiser atau planner,” ucapnya.

Pihaknya kemudian menyambut baik rencana pembentukan deputi yang menangani khusus soal MICE di struktur organisasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).

“Membentuk Deputi MICE merupakan langkah awal yang sangat baik untuk membangkitkan kembali MICE Indonesia. Kami tentu menunggu realisasinya segera,” kata Iqbal.

Menurut dia, keberadaan deputi MICE sangat penting bukan hanya dalam konteks pengembangan destinasi MICE tapi juga untuk membawa lebih banyak kegiatan MICE internasional ke Indonesia.

Itu sebabnya, Iqbal berharap agar sosok yang dipilih menduduki posisi deputi MICE ini punya kemampuan diplomasi internasional.

“Kami mengusulkan figur yang nantinya akan menduduki jabatan deputi MICE ini adalah figur yang mempunyai kemampuan diplomasi tingkat internasional, dan memiliki pengalaman dalam berhubungan dengan organisasi multilateral (IGO’s), NGO, asosiasi internasional, dan lainnya,” ujar dia.

Iqbal juga mengingatkan, UU Kepariwisataan di Indonesia tidak mengenal kata ‘event’, sehingga penamaan deputi memang sebaiknya mengikuti UU yaitu Deputi MICE tanpa embel-embel lain di belakangnya seperti kata ‘event’ dan lainnya karena terminologi itu tidak ada dalam UU.

Iqbal Alan Abdullah juga menyebut dengan posisi MICE seperti itu, maka cara pandang pemasaran MICE pun harus berubah.

Ia mencontohkan beberapa kota dunia yang menjadi markas besar organisasi internasional seperti Swiss (Geneve), Austria (Vienna), Inggris (London), Italia (Roma), Jerman, (Berlin, Bonn), AS (New York, Washington DC) dan beberapa kota di Asia seperti Jepang, Beijing, Singapura.

“Ingat juga bahwa kota-kota ini merupakan kota-kota lahirnya perusahaan-perusahaan multinasional yang ada di seluruh dunia, jadi pasar IGO’s atau pertemuan internasional antar- pemerintahan bisa dapat sekaligus juga kegiatan meeting maupun perjalanan insentif terkait bisnis dari perusahaan multinasional,” katanya

Menurut dia, dengan kerja keras, kerja cerdas, dan kerja sama semua stakeholder maka kota-kota di Indonesia bukan tidak mungkin akan lebih banyak masuk ke daftar 20 besar dunia atau bahkan 10 besar negara penyelenggara kegiatan pertemuan internasional terbesar di dunia.

 

Sumber : https://www.antaranews.com/


  • -

Yogya Jadi Salah Satu Lokasi Uji Trail Wisata Kesehatan Indonesia

Yogyakarta – Kota Yogyakarta menjadi salah satu lokasi uji trail wisata kesehatan di Indonesia. Uji coba ini merupakan tindak lanjut kerja sama Kemenkes dan Kemenparekraf setelah meluncurkan katalog wisata kesehatan dan skenario perjalanan wisata kebugaran beberapa waktu lalu.

“Sesuai kesepakatan dengan Kementerian Pariwisata, Indonesia sudah siap dengan wisata yang wellness. Karena itulah yang kita kembangkan, dan teman-teman pariwisata sudah membuat uji trail namanya di lima kota tadi: Yogya, Solo, Semarang, kemudian Bali, dan Jakarta.”

Hal itu dikatakan Kepala Pusat Analisis Determinan Kesehatan Kemenkes Pretty Multihartina seusai acara sosialisasi determinan kesehatan pada 25-27 November 2019 di Cavinton Hotel, Yogyakarta, Rabu (27/11/2019).

Pretty menjelaskan ada empat kluster wisata kesehatan dan kebugaran yang dikembangkan Kemenkes dan Kemenparekraf. Kluster tersebut adalah wisata medis, wisata kebugaran dan jamu atau herbal, wisata olahraga yang mendukung kesehatan, dan terakhir wisata ilmiah kesehatan.

“La kenapa kita sekarang mencoba untuk mensosialisasikan di Yogya dan sekitarnya? Karena Yogyakarta dengan Borobudur-nya menjadi salah satu dari lima destinasi superprioritas,” sebutnya.

Sumber : https://news.detik.com/


  • -

Tantangan Wishnutama untuk Kembangkan Pariwisata Bali Utara

Jakarta – Menparekraf Wishnutama ingin mengembangkan kawasan Bali bagian utara, termasuk timur dan barat. Tapi rasanya, ada tantangan yang tak mudah.

   Pekan lalu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama bersama wakilnya Angela Tanoe mengunjungi Bali sebagai kunjungan kerja perdana ke daerah. Selama di Bali, mereka bertemu Gubernur Bali, Wayan Koster dan para pelaku wisata.
Salah satu hasil pertemuan tersebut adalah, Wishnutama ingin mengembangkan pariwisata di Bali bagian utara, barat, dan timur. Tentu bukan rahasia lagi, kawasan Bali bagian selatan seperti Kuta, Sanur, dan Seminyak sudah penuh sesak.Konsentrasi pariwisata Bali pun terpusat di bagian selatan. Hingga akhirnya muncul permasalahan seperti overtourism, hingga kemacetan.

Tantangan Wishnutama untuk Kembangkan Pariwisata Bali UtaraWishnutama saat kunjungan kerja perdana di Bali (Afif Farhan/detikcom)

BACA JUGA: Siap Benahi Turis Nakal di Bali, Wishnutama?

Praktisi dan pemerhati pariwisata asal Bali, Puspa Negara berpendapat, pengembangan pariwisata Bali bagian utara, timur, dan barat tidak semudah membalikan telapak tangan. Akesesibilitas menjadi tantangan terberat.

“Aksesibilitas menjadi faktor penentu terdistribusinya wisatawan maupun berkembangnya destinasi di belahan Bali utara, timur, dan barat. Ini tak lepas dari kondisi infrastruktur pendukung kepariwisataan lebih dominan ada di Bali selatan seperti bandara, sarana, dan prasarana pendukung lainnya,” kata Puspa kepada detikcom, Selasa (26/11/2019).

Tantangan Wishnutama untuk Kembangkan Pariwisata Bali UtaraKawasan Bali utara yang penuh kontur perbukitan (Imam Sunarko/d’Traveler)

Rata-rata, wisatawan yang menginap di Bali menghabiskan waktu 2-3 malam. Tentu kalau dari kawasan selatan ke utara Bali, waktunya akan habis di jalan.

“Turis yang datang lewat jalur laut seperti cruise, ada yang berlabuh di Padang Bay (Bali bagian timur), Celukan Bawang (Bali bagian utara) dan Gilimanuk (Bali barat). Namun angkanya, itu hanya 2 persen saja dari total turis yang datang ke Bali. Sisanya melalui Bandara Ngurah Rai di Bali bagian selatan,” papar Puspa.

Bagaimana soal pembangunan bandara di kawasan Buleleng?”Begini, tahun 1967 ibukota Bali pindah dari Singaraja ke Denpasar, mungkin karena upaya untuk membangun bandara sebagai pintu masuk, yang mana pembangunan bandara relatif lebih mudah di Bali bagian selatan,” jawab Puspa.

Maksudnya pembangunan bandara relatif lebih mudah?

“Kawasan Bali bagian utara mungkin secara geografis memang sulit dibangun bandara karena kontur lahan yang berbukit, sedangkan di Bali bagian selatan relatif datar. Termasuk untuk membangun bandara di atas laut di Bali bagian utara, biayanya lebih besar,” terangnya.

Tantangan Wishnutama untuk Kembangkan Pariwisata Bali UtaraMenteri Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimuljono saat meninjau proyek Jalan Pintas di Mangwitani-Singaraja di Bali (Kementerian PUPR)

Puspa menjelaskan, oleh sebab itu harus ada perhitungan matang dari Kementerian Perhubungan dan Kementerian PUPR untuk membangun bandara dan jalan tol. Sementara menanti bandara dan jalan tol tersebut, Wishnutama disarankan untuk memperkuat SDM, atraksi wisata, dan peningkatan MICE di Bali bagian selatan.

“Menteri Parekraf Wishnutama bisa fokus untuk perbaikan destinasi, penguatan SDM pariwisata, penguatan atraksi wisata, dan peningkatan MICE,” tutup Puspa.

Sumber : https://travel.detik.com/

  • -

Ekonomi Kreatif Di Mata Wamenparekraf Angela Tanoesoedibjo

Jakarta – Wamenparekraf Angela Tanoesoedibjo membahas ekonomi kreatif bisa menjadi kekuatan baru dalam ekonomi di masa depan. Ini alasannya.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif menggelar acara Creative Economy Review di Balai Kartini, Selasa (26/11/2019). Menurut penjelasan Angela dalam pidatonya bahwa saat ini terjadi pergeseran ekonomi.

“Fenomena global saat ini pergeseran ekonomi baru ke ekonomi kreatif. Pergeseran terjadi ke kebutuhan konsumsi barang menjadi konsumsi pengalaman,” kata Angela mengawali keynote-nya.Menurut Angela, ekonomi kreatif akan semakin besar dan dikenal melalui teknologi yang ada saat ini. Tapi, kata dia, para pemangku kepentingan juga harus melihat sela tersebut.

“Ekonomi kreatif akan berkembang dan tumbuh beriringan dengan teknologi. Dan peluang ada jika kita mampu memanfaatkannya dengan baik,” tegas dia.

Lebih lanjut, menurut Angela ekonomi kreatif adalah wujud dari nilai tambah kekayaan intelektual yang bersumber pada kreativitas manusia dan berbasis warisan budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi. Jadi ekonomi kreatif diharapkan mampu menjadi pilar ekonomi yang baru.

“Ekraf diharapkan mampu jadi kekuatan baru di masa mendatang di ekonomi nasional tentunya bersamaan dengan sektor pariwisata,” imbuh dia.Ada satu alasan utama kenapa ekonomi kreatif tak akan habis. Karena, sektor ini tak bertumpu pada sumber daya alam, tapi lebih ke manusianya.

“Beda dengan lainnya, sektor ekonomi kreatif sangat bertumpu pada SDM. Lainnya kebanyakan bertumpu alam. Seiring terdegadrasi SDA setiap tahunnya, sektor ekonomi kreatif justru menempatkan kreativitas dan pengetahuan sebagai aset utama,” pungkas dia.

Sumber : https://travel.detik.com/


  • -

Indonesia Jadi Negara Favorit Turis, Wishnutama: Jangan Lengah

Jakarta – Bulan Oktober 2019 kemarin, Indonesia mendapat penghargaan sebagai negara favorit turis. Menparekraf Wishnutama senang, tapi minta pariwisata jangan lengah.

Penghargaan tersebut diberikan oleh Conde Nast Traveler, suatu media pariwisata asal AS. Indonesia menempati peringkat pertama dalam ‘The Best Countries in the World: 2019 Readers’.

Lewat sistem voting dari 600.000 pembaca Conde Nast Traveler, Indonesia berhasil mendapat poin tertinggi yakni 92,78. Indonesia mengungguli Thailand, bahkan Jepang.

Lewat Instagram pribadi Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama, @wishnutama seperti dilihat detikcom pada Senin (25/11/2019), dia memposting penghargaan tersebut. Sembari diposting foto-foto keindahan Indonesia.wishnutama

Sudah Diverifikasi

Saya selalu bersyukur atas hadirnya hari Senin sebagai awal semangat untuk berkarya. Terlebih Senin ini ketika saya bisa mengabarkan kepada teman-teman semua bahwa Indonesia dinobatkan sebagai The Best Countries in the World: 2019 Readers’ Choice Awards oleh Conde Nast Traveler melalui situs cntraveler.com.
Media yang berkantor pusat di One World Trade Center, New York, Amerika Serikat dan juga di Vogue House, London itu sejatinya telah mengumumkan hal ini sejak awal November 2019. Readers Choice Awards Conde Nast Traveler tahun ini adalah yang ke-32 kalinya. Pemilihan melibatkan 600,000 registered voters. Mereka yang sudah registrasi inilah yang memilih negara favorit mereka.

Hasilnya, Indonesia menempati peringkat 1 mengungguli Thailand, Portugal, Srilanka, dan Afrika Selatan, yang berturut-turut ada di posisi 2 hingga 5. Sedangkan negara ASEAN lain yang masuk 10 besar adalah Filipina di peringkat 8 dan Vietnam diposisi 10. Sementara Kamboja menempati posisi 19.

Conde Nast Traveler menyebut Indonesia berkembang sangat pesat dan menjadi destinasi baru pilihan nomadic traveler dengan modern resorts, pantai-pantai terpencil, hingga candi-candi yang menakjubkan.

Daya tarik lainnya adalah Bali yang dinilai sangat memikat bagi mereka penggemar budaya, yoga, sinar matahari tropis, pesta yang berkesan, hingga spa yang tenang dan menyenangkan.

Pengakuan dari Conde Nast Traveler semakin memperkuat posisi Indonesia untuk menjadi tujuan wisata di dunia. Tetapi hal ini jangan membuat kita lengah. Kita harus tetap bekerja keras agar mampu bersaing dengan negara lain, dan memberikan yang terbaik bagi wisatawan. Potensi ini justru harus kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk dapat meningkatkan pendapatan devisa, sehingga mampu memberi dampak positif bagi terciptanya lapangan kerja dan kesejahteraan bagi bangsa Indonesia

Sumber : https://travel.detik.com/

: IG  @wishnutama


  • -

Wishnutama Mau Majukan Pariwisata Bali Utara, Barat, dan Timur

Jakarta – Pekan lalu, Menparekraf Wishnutama melakukan kunjungan ke Bali. Dia pun ingin memajukan pariwisata Pulau Dewata, khususnya di bagian utara, barat, dan timur.

Kamis (21/11) dan Jumat (22/11) pekan lalu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama bersama wakilnya, Angela Tanoesoedibjo melakukan kunjungan kerja perdana ke daerah yakni ke Bali. Mereka pun menghadiri acara Indonesia Tourism Outlook 2020 di ITDC, Nusa Dua.

Lewat akun Instagram pribadinya, Wishnutama menjabarkan hasil kunjungannya. Termasuk, bertemu dengan Gubernur Bali, Wayan Koster.

Wishnutama menjelaskan, pertemuan dengan Wayan Koster bersama jajarannya berlangsung di Rumah Dinas Gubernur Bali, Denpasar. Salah satu hasil pertemuan itu adalah pengembangan Bali bagian utara, barat, dan timur.

“Dalam diskusi, kami sepakat dan punya komitmen yang sama untuk memajukan pariwisata Bali khususnya revitalisasi dan pengembangan Bali utara, Bali Barat dan Bali Timur, sebagai pilihan baru para turis. Pak Gubernur banyak berkisah tentang betapa potensi pariwisata di luar Selatan Bali yang belum tergali optimal, karena berbagai faktor dan kendala, seperti pembebasan lahan untuk pembangunan aksesibiltas dan infrastruktur,” tulis caption pada postingan foto di Instagram-nya.

Sumber : https://travel.detik.com/