• -

Hadiri Raker Konektivitas Pariwisata, Luhut Bicara Pentingnya Infrastruktur

Jakarta – Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi membuka rapat kerja soal konektivitas pariwisata. Luhut mengingatkan pentingnya pembangunan infrastruktur.

“Kenapa infrastruktur harus dibangun? Ya karena semua berkaitan dengan cost, biaya, jadi kalau kita mau negeri ini bagus untuk anak cucu kita, maka harus menurunkan cost, apapun yang kita lakukan harus berbicara costcost efisiensi dan efektifitas,” ujar Luhut dalam rapat kerja di Hotel Mercure, Kemayoran, Jakarta, Selasa (3/12/2019).

Luhut mengatakan dalam pembangunan konektivitas pariwisata, semua pihak harus kompak. Dia mengingatkan agar tak ada kebocoran dalam pembangunan konektivitas pariwisata.

“Apapun yang kita kerjakan kalau kita kompak, kita bisa, dan sekarang makin tertib, jadi saya minta pada teman sekalian, kalau seperti gaya-gaya yang lalu ada kebocoran sana sini, itu akan persulit kita semua dan persulit pribadi kita, karena itu kerja disiplin, kerja dengan hati, dan profesional,” ucap Luhut.

 

Sumber : https://news.detik.com/


  • -

Tiket Rp 14 Juta Wisata Pulau Komodo, Ini PR Berat Jokowi!

Jakarta, CNBC Indonesia – Skotlandia meraup Rp746 miliar per tahun dari wisata berbasis mitos, yakni naga Nessie di DanauLochness. Indonesia, negeri di mana naga benar-benar ada dan melata, berencana menggarap Pulau Komodo menjadi wisata premium. Layakkah?

Rencana itu mengemuka Senin (30/9/2019) lalu setelah rapat rencana pengembangan Taman Nasional (TN) Komodo, Nusa Tenggara Timur, yang merupakan cagar biosfer hewan endemik Komodo (Komodo Dragon) pada 1977 dan world heritage pada 1991.

Rapat itu dihadiri Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar dan Gubernur NTT Victor Laiskodat. Siti menyebutkan bahwa Taman Nasional Komodo akan ditata menjadi wisata premium.

Terakhir, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama bersama tim Kemenparekraf melakukan kunjungan kerja ke beberapa destinasi wisata super prioritas, termasuk di antaranya Pulau Komodo, pada Jumat (29/11/2019).

“Hari ini, kami mengeksplorasi beberapa sudut terindah Destinasi Super Prioritas ini dalam rangka mengawal progres pembangunan Labuan Bajo sebagai Destinasi Super Premium,” kata Wishnutama dalam caption unggahan Instagramnya di Pulau Komodo.

Rencana tersebut sempat memicu pro-kontra di sosial media. Sebagian netizen menilai itu sebagai bentuk komersialisasi mengingat tiket masuk ke Taman Nasional Komodo direncanakan sebesar US$1.000 atau setara Rp 14 juta.

Gubernur NTT Viktor B Laiskodat mengukuhkan kesan ini setelah terang-terangan menyatakan bahwa NTT hanya untuk wisatawan kaya. “Oleh karena itu wisatawan yang miskin jangan datang berwisata ke NTT, karena memang sudah dirancang untuk wisatawan yang berduit,” kata Viktor Laiskodat di Kupang, NTT, Kamis (14/11), sebagaimana dikutip Detik.com.

Menurut catatan Tim Riset CNBC Indonesia, wisata premium bukanlah hal baru dalam praktik industri wisata global. Indonesia terhitung terlambat dibanding negara lain yang sudah menggarapnya, seperti Maladewa (Maldives), Australia, dan Selandia Baru (New Zealand).

Secara Natural Pulau Komodo Idealnya Wisata Premium, Tapi..Foto: Sumber: IE University

Mengacu pada Selandia Baru, separuh dari wisatawan premium mereka berasal dari Negara Adidaya yakni Amerika Serikat (AS). Dalam strategi nasionalnya, mereka membidik wisata premiumnya secara ekslusif. Bukan untuk 15 juta kaum kaya dunia, melainkan 1,5 juta orang dari situ yang minimal penghasilannya adalah US$5 juta (Rp 70 miliar) setahun.

Secara Natural Pulau Komodo Idealnya Wisata Premium, Tapi..Foto: Sumber: IE University

Yang digarap bukan asal masyarakat tajir (high net worth individual/HNWI), melainkan pasar tajir melintir (very high HNWI) dan super tajir (ultra HNWI). World Wealth Report (2013) menyebutkan kaum elit ini membelanjakan minimal US$50.000 (Rp 700 juta) sekali kunjungan.

 

Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/


  • -

Ekonomi Kreatif Di Mata Wamenparekraf Angela Tanoesoedibjo

Jakarta – Wamenparekraf Angela Tanoesoedibjo membahas ekonomi kreatif bisa menjadi kekuatan baru dalam ekonomi di masa depan. Ini alasannya.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif menggelar acara Creative Economy Review di Balai Kartini, Selasa (26/11/2019). Menurut penjelasan Angela dalam pidatonya bahwa saat ini terjadi pergeseran ekonomi.

“Fenomena global saat ini pergeseran ekonomi baru ke ekonomi kreatif. Pergeseran terjadi ke kebutuhan konsumsi barang menjadi konsumsi pengalaman,” kata Angela mengawali keynote-nya.Menurut Angela, ekonomi kreatif akan semakin besar dan dikenal melalui teknologi yang ada saat ini. Tapi, kata dia, para pemangku kepentingan juga harus melihat sela tersebut.

“Ekonomi kreatif akan berkembang dan tumbuh beriringan dengan teknologi. Dan peluang ada jika kita mampu memanfaatkannya dengan baik,” tegas dia.

Lebih lanjut, menurut Angela ekonomi kreatif adalah wujud dari nilai tambah kekayaan intelektual yang bersumber pada kreativitas manusia dan berbasis warisan budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi. Jadi ekonomi kreatif diharapkan mampu menjadi pilar ekonomi yang baru.

“Ekraf diharapkan mampu jadi kekuatan baru di masa mendatang di ekonomi nasional tentunya bersamaan dengan sektor pariwisata,” imbuh dia.Ada satu alasan utama kenapa ekonomi kreatif tak akan habis. Karena, sektor ini tak bertumpu pada sumber daya alam, tapi lebih ke manusianya.

“Beda dengan lainnya, sektor ekonomi kreatif sangat bertumpu pada SDM. Lainnya kebanyakan bertumpu alam. Seiring terdegadrasi SDA setiap tahunnya, sektor ekonomi kreatif justru menempatkan kreativitas dan pengetahuan sebagai aset utama,” pungkas dia.

Sumber : https://travel.detik.com/


  • -

Indonesia Jadi Negara Favorit Turis, Wishnutama: Jangan Lengah

Jakarta – Bulan Oktober 2019 kemarin, Indonesia mendapat penghargaan sebagai negara favorit turis. Menparekraf Wishnutama senang, tapi minta pariwisata jangan lengah.

Penghargaan tersebut diberikan oleh Conde Nast Traveler, suatu media pariwisata asal AS. Indonesia menempati peringkat pertama dalam ‘The Best Countries in the World: 2019 Readers’.

Lewat sistem voting dari 600.000 pembaca Conde Nast Traveler, Indonesia berhasil mendapat poin tertinggi yakni 92,78. Indonesia mengungguli Thailand, bahkan Jepang.

Lewat Instagram pribadi Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama, @wishnutama seperti dilihat detikcom pada Senin (25/11/2019), dia memposting penghargaan tersebut. Sembari diposting foto-foto keindahan Indonesia.wishnutama

Sudah Diverifikasi

Saya selalu bersyukur atas hadirnya hari Senin sebagai awal semangat untuk berkarya. Terlebih Senin ini ketika saya bisa mengabarkan kepada teman-teman semua bahwa Indonesia dinobatkan sebagai The Best Countries in the World: 2019 Readers’ Choice Awards oleh Conde Nast Traveler melalui situs cntraveler.com.
Media yang berkantor pusat di One World Trade Center, New York, Amerika Serikat dan juga di Vogue House, London itu sejatinya telah mengumumkan hal ini sejak awal November 2019. Readers Choice Awards Conde Nast Traveler tahun ini adalah yang ke-32 kalinya. Pemilihan melibatkan 600,000 registered voters. Mereka yang sudah registrasi inilah yang memilih negara favorit mereka.

Hasilnya, Indonesia menempati peringkat 1 mengungguli Thailand, Portugal, Srilanka, dan Afrika Selatan, yang berturut-turut ada di posisi 2 hingga 5. Sedangkan negara ASEAN lain yang masuk 10 besar adalah Filipina di peringkat 8 dan Vietnam diposisi 10. Sementara Kamboja menempati posisi 19.

Conde Nast Traveler menyebut Indonesia berkembang sangat pesat dan menjadi destinasi baru pilihan nomadic traveler dengan modern resorts, pantai-pantai terpencil, hingga candi-candi yang menakjubkan.

Daya tarik lainnya adalah Bali yang dinilai sangat memikat bagi mereka penggemar budaya, yoga, sinar matahari tropis, pesta yang berkesan, hingga spa yang tenang dan menyenangkan.

Pengakuan dari Conde Nast Traveler semakin memperkuat posisi Indonesia untuk menjadi tujuan wisata di dunia. Tetapi hal ini jangan membuat kita lengah. Kita harus tetap bekerja keras agar mampu bersaing dengan negara lain, dan memberikan yang terbaik bagi wisatawan. Potensi ini justru harus kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk dapat meningkatkan pendapatan devisa, sehingga mampu memberi dampak positif bagi terciptanya lapangan kerja dan kesejahteraan bagi bangsa Indonesia

Sumber : https://travel.detik.com/

: IG  @wishnutama